<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731</id><updated>2011-11-05T02:01:26.675-07:00</updated><category term='komitmen'/><category term='pemimpin'/><category term='kontribusi'/><title type='text'>A Song Of Mind</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>52</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-4901624642094016333</id><published>2011-07-29T07:01:00.000-07:00</published><updated>2011-11-05T02:01:26.725-07:00</updated><title type='text'>What if...</title><content type='html'>Dalam angan-angan terliar, saya pernah membayangkan ingin menjadi seorang psikopat yang tidak memiliki perasaan. Pikiran yang bodoh, karena hanya atas dasar pertimbangan seorang psikopat tidak akan merasakan kesedihan, kekecewaan, ataupun perasaan bersalah. Membuang segala bentuk ekspresi emosi yang seringkali menyesatkan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;But the fact is...&lt;br /&gt;Being a psychopath doesn't solve your problems, although you've lost all senses of feeling.&lt;br /&gt;Just face it bravely, maturely.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We can't forced everybody to loves us, but we can let them to decide. Just start it with loving others first, and try to do the best thing you can. Let Allah takes the rest...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-4901624642094016333?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/4901624642094016333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=4901624642094016333' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/4901624642094016333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/4901624642094016333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2011/07/what-if.html' title='What if...'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-2692751378284585129</id><published>2011-05-18T08:12:00.000-07:00</published><updated>2011-05-18T08:19:48.421-07:00</updated><title type='text'>Quotes (1)</title><content type='html'>Well, there are some of quotes I got these days. All of them are beautiful yet meaningful. This half part from the poem "10 Things I Hate About You" is one of my fave :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;I hate the way you’re always right, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I hate it when you lie. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I hate it when you make me laugh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;even worse when you make me cry. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I hate it when you’re not around, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;and the fact that you didn’t call. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But mostly I hate the way I don’t hate you, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;not even close…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;not even a little bit… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;not even at all.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-2692751378284585129?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/2692751378284585129/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=2692751378284585129' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/2692751378284585129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/2692751378284585129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2011/05/quotes-1.html' title='Quotes (1)'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-9145463833630404951</id><published>2011-05-18T07:57:00.000-07:00</published><updated>2011-05-18T08:02:17.708-07:00</updated><title type='text'>Looking At The Sky</title><content type='html'>“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Chin up&lt;/span&gt;!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dagunya diangkat ke atas. Kayak menengadah ke atas. Karena biasanya ketika ketika kita sedih, kita akan cenderung menunduk dan airmata akan lebih mudah mengalir…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-dikutip dari konversasi singkat dengan salah seorang sahabat suatu malam, dengan sedikit perubahan-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kamu merasa sedih?&lt;br /&gt;Bila sedang dirundung kesedihan, apa yang biasanya kamu lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia yang dibekali perasaan sebagai teman setia akal tentunya pernah merasa sedih. Dari mulai kesedihan dalam kadar minimal hingga kesedihan yang berdampak pada kestabilan psikis, berujung pada depresi dan gangguan jiwa. &lt;br /&gt;Kesedihan biasanya lahir karena ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Saat kita mengharap keberhasilan dan ternyata kegagalan yang dijumpai, kita bersedih. Saat kehilangan seseorang yang kita damba akan berada di sisi kita untuk selamanya, kita bersedih. Saat tiba-tiba tubuh tergeletak lemah karena penyakit sementara kita berharap senantiasa sehat, kita pun bersedih. Ada begitu banyak alasan, beragam sebab, yang dapat memicu timbulnya kesedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan, bukan “mengapa kamu bersedih” yang ingin saya angkat. Setiap orang punya cerita tersendiri di balik tiap raut wajah yang mengerut pilu, airmata yang membanjiri kedua pipi, dan tiap isakan yang membuat tenggorokan seperti terjepit. Berbeda waktu, berbeda individu, berbeda masalah. Terlalu variatif dan luas untuk dibahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin saya singgung adalah mengenai “apa yang kamu lakukan saat kamu bersedih”.&lt;br /&gt;Apakah kamu menangis?&lt;br /&gt;Saya secara jujur mengakui bahwa saya tergolong pribadi yang mudah mengeluarkan airmata setiap merasa sedih. Dan mungkin begitu pula jutaan (bahkan milyaran) manusia lainnya, khususnya individu dengan kromosom XX (ya, maksud saya kaum wanita). Bukan berarti saya mengatakan bahwa wanita itu lemah. Prinsip saya, tangisan bukanlah tanda kelemahan. Ini hanyalah salah satu cara pelampiasan emosi yang relatif ‘aman’, karena tidak akan melukai orang lain (setidaknya, tidak secara fisik). Tapi, tentunya tidak setiap waktu dan tempat bisa menjadi kesempatan yang sesuai untuk menerapkan langkah ini. Bayangkan ketika kita berada di tengah kerumunan orang. Apakah menyenangkan menjadi pusat perhatian karena kita tiba-tiba menangis seperti orang frustasi di tengah mereka? Rasanya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sudah begitu, saya biasanya punya langkah jitu. Saya akan segera memandang ke arah langit. Bukan langit-langit, tapi langit sungguhan. Akan jauh lebih baik bila itu adalah langit biru yang cerah di pagi ataupun siang hari. Bagi saya, langit selalu punya pesona tersendiri. Langit fajar, pagi-siang, senja, ataupun malam punya kesan masing-masing. Dan khusus untuk ‘penentram’ kesedihan, langit biru bersih di pagi-siang menjadi sahabat terbaik saya. Ini menjadi ritual yang sayangnya tanpa sadar sudah saya tinggalkan – entah sejak bangku SMA atau kuliah, saya tidak begitu yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, saya bisa begitu antusias hanya dengan duduk di ruang kelas yang bisa menghadap jendela, atau berdiri santai di beranda depan kelas di lantai dua atau tiga. Memandang ke arah langit biru, dengan gradasi biru muda dan indigo yang dihiasi gumpalan awan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, langit mendung bisa jadi partner-in-crime kesedihan. Bukan hanya suasana hati yang kelabu, tapi juga langit. Rasa-rasanya hujan yang turun dengan mudah beradu dengan tangisan yang mengalir dari pelupuk mata. Terlebih, saya tidak suka (dan takut) petir. Jadi… ritual ‘memandang langit’ untuk mengatasi kesedihan tidak berlaku saat cuaca tidak bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat kembali mengenai kebiasaan lama ini beberapa waktu lalu, ketika sedang terlibat konversasi dunia maya dengan salah seorang sahabat. Entah kenapa, topik malam itu berkutat ke arah hal-hal melankolis dan semacamnya. Hingga sahabat saya berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba… hmm &lt;span style="font-style:italic;"&gt;chin up&lt;/span&gt; aja, Ra. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Chin up&lt;/span&gt;!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Chin up&lt;/span&gt;? Langsung terbayang gerakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;head tilt&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;chin lift&lt;/span&gt; di benak saya – salah satu langkah dasar untuk membuka jalan napas pada pasien yang ditemukan dalam keadaan tidak sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat saya tertawa ringan (terwakili dengan ketikan kata-kata dan emoticon ‘laughing’) ketika saya mengungkapkan apa yang muncul dalam pikiran saya mengenai ucapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya… prinsipnya begitu, ya. Dagunya kayak diangkat ke atas, menengadah ke atas. Karena biasanya kalau kita lagi sedih, kita akan cenderung menunduk dan jadi gampang nangis. Jadi dengan cara ini, kita menahan supaya nggak menangis…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm… mungkin langkah itu bisa berhasil untuk beberapa orang. Tapi sepertinya tidak cukup berhasil bagi saya – tidak bila ‘unsur langit’ tidak dapat dipenuhi. Menahan tangis dengan cara ini sedikit membuat dada terasa lebih penuh – lebih sesak. Walau saya akui, tetap bisa jadi pertimbangan untuk dilakukan saat situasi tidak memungkinkan untuk menumpahkan tangisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya saya masih akan lebih memilih mencari ruang kosong, pojokan sempit, atau bahkan hanya butuh sebuah buku yang memungkinkan saya untuk menyembunyikan wajah di baliknya – sehingga tidak akan ada yang menyadari jika saya sedang menangis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kamu punya cara lain menghadapi kesedihan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;You might have one.&lt;br /&gt;Everybody does, I thought.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;:)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-9145463833630404951?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/9145463833630404951/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=9145463833630404951' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/9145463833630404951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/9145463833630404951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2011/05/looking-at-sky.html' title='Looking At The Sky'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-5657748051301691736</id><published>2011-04-09T09:05:00.000-07:00</published><updated>2011-04-09T09:08:26.447-07:00</updated><title type='text'>Welcoming The "Double Two"...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Well, here I am.&lt;br /&gt;Writing another note this night, just a day before my age going to be added (or I should say – reduced?). I’m gonna be 22 tomorrow – yup, a double two age.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan menjelang usia 22 tahun? Tentunya menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Terdengar klise dan pasaran, namun itulah keinginan yang paling kuat melekat. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;There’s no such perfect person. But at least I try to be a good one. &lt;/span&gt;Sepanjang hampir 22 tahun perjalanan hidup ini, rasanya semakin panjang pula daftar kesalahan, keburukan, kebodohan, dan hal-hal negatif lainnya. Hal-hal yang membuat saya menyesal, baik hanya sejenak ataupun berkepanjangan. Tapi rasanya bukan hal yang bijak bila kita terlalu berlama-lama pada rasa sesal dan tak beranjak bangkit. Bukankah kesalahan di masa lalu itu ada untuk menjadi pelajaran bagi masa depan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur atas segala peristiwa yang pernah terjadi dalam hidup saya. Baik yang membahagiakan maupun menyedihkan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yes, I always believe that everything happens for a reason. Or reasons.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari belakangan, saya semakin tersadarkan bahwa seberat apapun masalah yang menghampiri, yang paling penting adalah bagaimana cara kita menghadapi saat itu datang dan mengambil hikmah setelah itu berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki minggu pertama di departemen Psikiatri membawa kesan tersendiri bagi saya. Selama bertahun-tahun berfokus pada kesehatan fisik, saya hampir lupa bahwa ada kesehatan psikis. Penyakit mental, gangguan jiwa, atau apapun sebutannya. Bila di bagian lain kita akan menemui pasien rawat inap yang tergolek lemah di atas ranjang, di bagian ini pasien justru dengan leluasa berjalan mondar-mandir di sekitar bangsal rawat inap. Seringkali justru tidak tampak sakit – terutama jika dilihat sekilas dari kejauhan. Ada pasien yang setiap bertemu dengan saya selalu menyerukan nama saya dengan lantang, ada yang selalu menjabat tangan dengan penuh semangat, dan ada pula yang hanya memberikan tatapan mata kosong – kemudian tersenyum dan berlalu begitu saja. Ada pula yang katanya ingin meramal saya, namun berakhir dengan cengiran tanpa makna dan dia akhirnya pergi tanpa mengatakan hasil “ramalan”-nya. Keberadaan mereka di bangsal rawat inap tentu bukan tanpa alasan. Apapun itu, membayangkan mereka berada terpisah dari keluarga, tentunya bukanlah suatu hal yang mudah ataupun menyenangkan. Saya jadi sedikit berandai-andai. Bagaimana bila saya yang berada di posisi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di bagian lain, keluarga dengan penuh keprihatinan datang untuk menjenguk dan bahkan merawat pasien, di bagian ini saya dihadapkan dengan realita bahwa pasien mungkin justru menjadi seseorang yang ditakuti atau dihindari oleh keluarganya sendiri. Ironis memang, namun itulah kenyataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa sangat tersentuh ketika berkesempatan mengikuti semacam aktivitas kelompok bersama para anggota keluarga dari pasien Skizofrenia – orang yang memiliki gangguan pada kemampuan membedakan realita dengan halusinasi ataupun alam pikirannya. Di sana saya bertemu dengan para ibu, ayah, kakak, ataupun saudara lain yang tampak sangat concern dengan kondisi anggota keluarganya yang menderita Skizofrenia. Penderitaan justru lebih dirasakan oleh mereka yang berjuang demi kesembuhan anggota keluarganya, melawan berbagai stigma negatif yang terlanjur merebak di masyarakat. Berat, namun mereka tidak begitu saja menyerah pada keadaan. Dan saya yang saat itu (Alhamdulillah) berada dalam kondisi sehat secara fisik dan (mudah-mudahan) mental jadi berpikir: bagaimana mungkin saya tidak bersyukur atas apa yang saya miliki, sementara mereka yang memiliki beban permasalahan yang cukup berat masih dapat mengambil hikmah dan mengucap syukur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diberikan kesempatan…&lt;br /&gt;Saya ingin bisa menjadi pribadi yang lebih baik,&lt;br /&gt;yang senantiasa berpikir positif dan optimis,&lt;br /&gt;dan lebih realistis.&lt;br /&gt;Kadang, hidup berjalan tidak seperti yang kita harapkan. Namun bukan berarti itu menjadi alasan bagi kita untuk berhenti berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya saya beranjak dari idealisme “kacamata kuda” – &lt;span style="font-style:italic;"&gt;this is a real life… &lt;br /&gt;It’s about how you seeing the unperfect perfectly… ^^&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih, bagi semua orang yang pernah hadir dalam hidup saya dan memberikan “warna”. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Whatever the colour is…&lt;br /&gt;Thank you, it means a lot for me. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah… ^^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-5657748051301691736?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/5657748051301691736/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=5657748051301691736' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/5657748051301691736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/5657748051301691736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2011/04/welcoming-double-two.html' title='Welcoming The &quot;Double Two&quot;...'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-5513475473392346697</id><published>2011-02-12T08:30:00.000-08:00</published><updated>2011-02-12T08:45:47.490-08:00</updated><title type='text'>Je t’aime aussi et tu me manques déjà</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Why do the title have to be like the line above? Well, actually it’s one of my friend’s favorite line, and she love to use it these days (also mentioned it in her blog). And I found myself loving this line, too. If you want to know the meaning, you can figure it out from google-translate… :D&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'm just having a random night talk with one of my friend, Dina - another "labil" night for us, though? :p - and she gave me some lines, good ones. I couldn't remember clearly all of them (because of my short-term-memory ^^), but there's one that I still remember the point: “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;We’re all a little weird and life is a little weird. And when we find somebody who is as weird as ourselves, that’s what when we call it love&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;And yes, that-thing-called-love sometimes come in unpredictable way. There're already many examples around us. Nobody knows which relationship will ended happily. But at least we go and try for it. You can do it!&lt;/span&gt; *sekalian numpang kasih semangat buat mbak yang lagi labil di "sana"... hehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Well, for now and later, I'm always hoping the best for all of us... ^^ &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-5513475473392346697?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/5513475473392346697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=5513475473392346697' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/5513475473392346697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/5513475473392346697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2011/02/je-taime-aussi-et-tu-me-manques-deja.html' title='Je t’aime aussi et tu me manques déjà'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-5482876964000194334</id><published>2011-02-12T08:24:00.000-08:00</published><updated>2011-02-12T08:29:46.806-08:00</updated><title type='text'>Yes, I'm still having a blog...</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suddenly, I really want to write about something in this blog. Just some random thought of mine – as usual.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rasanya sudah beberapa bulan belakangan ini saya tidak pernah aktif menulis di blog ini. Entah karena kesibukan (akademis maupun non-akademis) yang terlalu menyita waktu, atau karena saya yang memang sedang terlalu malas untuk menulis tentang apapun. Atau mungkin juga karena saya mulai menemukan salah satu metode pelampiasan stress yang  menyenangkan selain menulis: memasak! Yup, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;I enjoy cooking very much these past days&lt;/span&gt;. Ketika sedang kesal (atau sebaliknya), memasak dapat menjadi cara ampuh untuk mengalihkan segala energi dan emosi yang menggebu-gebu. Apalagi jika ada sesi tumis-menumis. Wah, seluruh tenaga tampaknya langsung dikerahkan habis-habisan. Minimal, ada 2 keuntungan yang bisa diperoleh: 1. Menyalurkan esktra energi dan emosi secara positif, dan 2. Ada masakan lezat yang dihasilkan! :) (Ok, ada juga poin 3. Orang yang mencicipi bisa ikut senang dapat makanan!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang tulis-menulis, saya jadi teringat beberapa hari yang lalu, eyang saya (eyang putri dari pihak ibu) tiba-tiba saja memberikan beberapa nasihat dan meminta saya untuk membantu mengetikkan nasihat-nasihat yang ingin dia berikan ke sanak keluarga lainnya, khususnya bagi para anak dan cucu. Semuanya tentang nilai-nilai yang berharga dalam kehidupan. Saya tidak akan menuliskan pesan-pesan itu dalam blog ini sekarang. Jika ada kesempatan suatu hari nanti, mungkin saya akan menuangkannya dalam postingan lain. Intinya adalah… bahkan seorang eyang berusia hampir 79 tahun masih memikirkan suatu metode penyampaian pesan bersifat tulisan. Karena dalam beberapa hal, hitam di atas putih dapat menjadi sesuatu hal yang tidak mudah hilang, tidak seperti ingatan tentang percakapan lisan yang dapat dengan mudah dilupakan. Jika kelak – suatu hari setelah bertahun-tahun nantinya, ketika saya sudah tidak aktif lagi menulis di blog – saya berkesempatan untuk membaca tulisan-tulisan yang pernah saya goreskan, mungkin akan menjadi suatu nostalgia yang manis. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iseng-iseng saya mengutip sedikit percakapan dengan eyang beberapa waktu belakangan, yang menurut saya berkesan dan membuat saya semakin mengagumi beliau…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya (S): “Eyang, kenapa tiba-tiba kok bisa kepikiran mau menuliskan pesan-pesan eyang itu?”&lt;br /&gt;Eyang (E): “Iya, eyang ingin sekali rasanya meninggalkan sesuatu untuk anak-cucu eyang nantinya, tapi bukan hanya harta. Hidup eyang sekarang rasanya udah lengkap, udah nggak ada beban lagi. Jika suatu hari nanti eyang pergi, eyang nggak mau pergi tanpa meninggalkan apa-apa…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah eyang, memang harta buat eyang  bukanlah ukuran kebahagiaan. Seperti yang juga eyang pernah sebutkan dalam salah satu percakapan dengan saya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Percuma aja kaya, tapi ternyata dia menyakiti kamu. Lebih baik yang sederhana, tapi hidupmu bahagia. Suku dan status itu bukan apa-apa. Yang paling penting, dia tanggung jawab dan setia.” Begitulah pendapat eyang yang diutarakan secara lugas dan sederhana mengenai kriteria pasangan idaman. Bukan, bukan pasangan idaman untuk eyang sendiri. Yang eyang maksudkan di sini adalah nasihat untuk saya. Jelas, harta bukan jaminan bagi kebahagiaan di mata eyang. (Dan saya sependapat ^^)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt; I’m always love you, grandma… you’re one of the best person in my life… always wish you all the best :)&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-5482876964000194334?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/5482876964000194334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=5482876964000194334' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/5482876964000194334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/5482876964000194334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2011/02/yes-im-still-having-blog.html' title='Yes, I&apos;m still having a blog...'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-4560833534697661944</id><published>2010-09-13T22:39:00.000-07:00</published><updated>2010-09-28T07:00:28.077-07:00</updated><title type='text'>People In Your Life...</title><content type='html'>&lt;em&gt;As time goes by, I believe that people in our life could come and go. Some people just easy to come, easy to go. But others might stay longer. Probably until the end of our life, though. We just don't know who will be which. But every single person always brings something. Good or bad, the presence of someone gives us things to learned....&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur, terlahir di dunia dimana saya tumbuh dan dikelilingi banyak orang yang secara langsung maupun tidak langsung telah mengajari saya dalam memaknai kehidupan. Terkadang, kita tidak perlu mengalami suatu hal untuk memahami bahwa itu baik atau buruk, karena kita dapat belajar dari pengalaman orang lain. &lt;em&gt;Experience is the best teacher -- but you don't have to do all by yourself... :) &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita merasakan kebaikan dari orang lain, kita dapat memahami kebahagiaan yang timbul, dan akhirnya (dalam kondisi ideal) akan cenderung meneruskan kebaikan itu. Namun, saat kita merasakan hal yang sebaliknya (mengalami suatu hal yang buruk), kita akan memahami bahwa melakukan hal yang sama hanya akan membuat lingkaran setan yang tidak akan pernah putus. Hanya aura negatif yang akan terus menyelubungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekecil apapun peran seseorang dalam porsi hidup kita secara keseluruhan, tentunya ada makna tersendiri yang mereka torehkan. Walaupun bahkan keberadaan mereka nyaris tidak lagi kita ingat ataupun sadari. (Atau sebaliknya, mereka pun lupa bahwa kita pernah singgah di kehidupan mereka ^^). Contohnya saja, guru TK yang pertama kali mengajari saya membaca (saya benar-benar sudah tidak ingat wajah dan namanya). Dari beliaulah saya bisa berkenalan dengan dunia alfabetik, sampai akhirnya bisa menulis untaian kata dalam blog ini setiap kali saya butuh 'pelarian'. Saya mungkin telah melupakan beliau, tapi apa yang diajarkannya masih lekat dan bermanfaat hingga kini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau contoh lainnya. Saya pernah punya sahabat karib saat sekolah dasar, yang terputus hubungan karena saya pindah mengikuti dinas orangtua. Awalnya, kami masih saling berkirim surat layaknya dua orang sahabat pena. Namun entah dalam berapa waktu akhirnya korespondensi ini terhenti. Beberapa malam saya dihantui rasa bersalah karena tidak membalas suratnya -- saya kehilangan alamatnya, entah bagaimana detil ceritanya, saya pun sudah tak dapat mengingat dengan sempurna. Saya melanjutkan hidup, dan begitu pula dia. Hingga suatu situs jejaring sosial mempertemukan kami nyaris sepuluh tahun kemudian -- mungkin ini contoh ketidaksengajaan yang disengaja. :) Hanya ada obrolan ringan yang singkat, namun cukup untuk membuat bernostalgia. Terkenang kembali penyesalan karena tidak bisa membalas surat, namun kali ini tanpa kesedihan. Dari sini saya belajar, bahwa di dunia ini akan ada orang-orang yang datang dan pergi dalam hidup kita. Ibarat pelakon sinetron yang masa kontraknya habis setelah sekian episode, mungkin begitulah kira-kira porsi mereka dalam hidup kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang mereka pergi begitu saja tanpa kita sadari. Kadang mereka pergi karena keadaan yang memaksa demikian. Kadang mereka pergi karena apa yang kita lakukan. Dan saat mereka pergi, tak ada yang dapat kita lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beragam bentuk dari kepergian dan kehilangan. Kepergian abadi yang dikukuhkan oleh kematian, kepergian karena terpisahkan oleh jarak dan waktu, kehilangan karena tembok bernama kesibukan dan dunia baru, hingga kehilangan yang tak kasatmata - dimana secara jasmani kita masih dapat menjumpai, namun perasaan dan kenyamanan yang tak lagi sama membuat seakan menjauh, bahkan menghilang. Ibarat kabel telepon yang rusak dan terputus sambungan. Tidak ada yang tahu pasti, berapa lama hal ini akan bertahan. Kepergian dan kehilangan yang tidak abadi tidak pernah dapat diprediksi. Hanya perjalanan waktu yang bisa menjawab, apakah kesempatan untuk tersambung kembali akan datang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;When we meet someone, we have to face the possibility that he/she might go. But not everybody. Some people would stay. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who would stay, then?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;People said, "your family".&lt;br /&gt;Others added, "your bestfriend".&lt;br /&gt;All said, "your beloved ones".&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Well, I believe the one who stay might be the one who loves us, the one who cares, and the one whose life is also being fullfilled by us --- ideally. Or it just because the destiny said so. Who knows? :) &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*************************************************************************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Doesn't have to be the perfect one, but have to fit you properly -- like when you're wearing clothes in the right size" ^^&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-4560833534697661944?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/4560833534697661944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=4560833534697661944' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/4560833534697661944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/4560833534697661944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2010/09/people-in-your-life.html' title='People In Your Life...'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-4299478128995276072</id><published>2010-09-10T09:35:00.000-07:00</published><updated>2010-09-10T09:45:03.938-07:00</updated><title type='text'>Why Do You Want To Become A Doctor?</title><content type='html'>&lt;em&gt;Well, I thought the question above is especially for myself.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s been like a habit, I tend to write a note while I’m thinking about some random things in my insomnia night. And now, this question suddenly came up in my mind. Not in an exact random without reasons, because there’s a trigger before.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda bertanya pada dokter ataupun calon dokter mengenai pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, saya yakin anda akan menjumpai jawaban yang bervariasi. Sebagian akan menjawab “ingin menolong orang lain”, “cita-cita sejak kecil”, “harapan orang tua”, “profesi yang menjanjikan,” dan lain sebagainya. Bahkan, beberapa di antara mereka mungkin menyimpan alasan-alasan dramatis seperti “ingin menyembuhkan penyakit yang menyerang orang tua saya” dan sejenisnya. Jujur, ketika seseorang bertanya mengenai alasan saya ingin menjadi seorang dokter, jawaban saya akan berkutat di contoh jawaban pertama dan kedua. Namun ketika saya mencoba memikirkannya kembali, ada sedikit keraguan menerpa. Benarkah itu jawabannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada berjuta (mudah-mudahan saya sedang tidak hiperbolis) profesi di dunia ini, dan sebagian besar di antaranya bisa membuka kesempatan untuk menolong orang lain. &lt;em&gt;Then why do I have to choose to be “doctor”?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila beranjak ke alasan kedua, sesungguhnya jadi lebih membingungkan. Baiklah, memang sejak kecil saya sudah bercita-cita untuk menjadi seorang dokter. Tapi tentunya anda telah menyadari bahwa dokter tampaknya merupakan salah satu dari beberapa profesi favorit di kalangan anak-anak. Mungkin bagi mereka, sosok yang dapat menyembuhkan orang sakit tampak begitu mengagumkan. Pada kenyataannya, keputusan seseorang sembuh dari penyakitnya atau tidak berpulang kepada kehendak Sang Pencipta. Seorang dokter tidak bisa menjamin keberhasilan penyembuhan hingga 100%. Ia hanya bisa mengusahakan sesuai batas kemampuannya, berdasarkan ilmu yang telah direguk selama bertahun-tahun masa pendidikan dengan ditambah beberapa pengalaman langsung yang dijumpai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menjadi sedikit gamang, ketika profesi ini menjadi profesi yang kadangkala dielu-elukan, dispesialkan, dianggap ‘tinggi’, dan sejenisnya. Ibaratnya, anda harus menjadi sosok yang superior (dalam pengertian positif), dimana penguasaan ilmu memegang peranan, komunikasi yang baik kunci utama, dan ada sifat-sifat positif yang harus dijunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang dosen pernah berkata, bahwa jika mengejar materi semata, maka sesungguhnya profesi dokter bukanlah pilihan yang ideal. Karena pada hakikatnya profesi dokter adalah profesi yang begitu erat dengan sosial-kemanusiaan. Kita tidak bisa menentukan pasien mana yang harus menderita penyakit apa, dan penyakit bisa menyerang seseorang dalam situasi yang tak bisa kita pilih ataupun prediksi. Kita dapat mengambil contoh seperti bencana alam yang memakan begitu banyak korban jiwa dan korban luka-luka. Tidak etis rasanya bila seorang dokter hanya berpangku tangan melihat (bila kejadian itu masih dalam jangkauannya) karena tidak ada jaminan keuntungan materi akan diperolehnya bila ia turun tangan. Jika dilakukan dengan tulus, maka profesi ini akan menjadi ladang amal yang begitu luas – limpahan materi yang berkecukupan hanyalah bonus pemanis jika memungkinkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya, saya belum bisa merasa benar-benar total untuk menolong orang lain. Bukan berarti saya tidak memiliki keinginan – setiap kali melihat seseorang tak berdaya akibat suatu penyakit, saya selalu tergerak untuk melakukan sesuatu, setidaknya untuk meringankan penderitaannya. Tapi, ada beberapa pengecualian. Seperti saat adik pertama saya merasa tidak enak badan (baca: kurang sehat), saya cenderung acuh-tak-acuh. Hm, mungkin acuh-tak-acuh bukan pilihan kata yang sesuai. Lebih tepatnya, saya justru menganggapnya sebagai hal yang agak menyebalkan. Alih-alih berempati dan berusaha membuatnya merasa lebih nyaman, saya justru meladeninya dengan gerutu. Entah mengapa, saya justru merasa terganggu dengan keluhan-keluhannya. Apalagi bila keluhan ini muncul di saat-saat yang tidak tepat – seperti di malam hari ketika saya sudah benar-benar lelah dan bersiap untuk tidur. Saya sering menganggapnya agak terlalu berlebihan dan memaksa. Dia terus menagih obat yang bisa membuatnya merasa lebih nyaman – padahal saya tipikal orang yang tidak suka merekomendasikan obat-obatan. Prinsip saya, bila suatu penyakit atau gangguan kesehatan masih dapat diatasi tanpa obat, berarti obat itu memang tidak dibutuhkan. Tapi beberapa waktu belakangan saya jadi berpikir. Bagaimana  bila nanti saya berjumpa dengan pasien yang jauh lebih tidak kooperatif dan memaksa, di situasi yang juga tidak saya harapkan? Apakah ini akan membuat saya setengah-setengah dalam anamnesis, pemeriksaan, diagnosis, dan tatalaksana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari “renungan” itu, saya merasa bahwa saya harus belajar untuk dapat lebih mengendalikan perasaan dan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, tampaknya topik tulisan ini telah benar-benar melompat dari yang seharusnya sejalan menurut judul. Namun, entah mengapa saya meyakini satu hal: walaupun alasan yang mendasari seseorang memilih atau melakukan sesuatu dapat turut menentukan seberapa kuat ia dapat menjalani langkah ke depan, pada akhirnya yang terbaik adalah menjalani keputusan yang telah kita pilih dengan sebaik-baiknya. Karena sekeras apapun kita berusaha memikirkan yang terjadi di masa lalu, tidak akan ada yang berubah dari masa itu. Sebaliknya, yang terpenting adalah menapaki jalan yang terbentang menuju masa depan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;huff... lagi-lagi note yang random... &gt;-&lt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-4299478128995276072?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/4299478128995276072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=4299478128995276072' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/4299478128995276072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/4299478128995276072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2010/09/why-do-you-want-to-become-doctor.html' title='Why Do You Want To Become A Doctor?'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-9219102416314274693</id><published>2010-06-02T10:53:00.000-07:00</published><updated>2010-06-02T11:00:42.369-07:00</updated><title type='text'>Happiness?</title><content type='html'>And they live happily ever after.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;THE END.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cerita yang menyuguhkan kebahagiaan sebagai akhir cerita. Istilah “&lt;em&gt;happy ending&lt;/em&gt;” tentunya amat melekat di benak kita semua. Namun apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kebahagiaan itu sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang tampaknya begitu keras untuk mengejar kebahagiaan. Menjadikannya target utama dalam hidup, menjadi konklusi dari semua target yang ada dalam agenda mereka. Kisah yang begitu penuh perjuangan, mengharu biru, dan diwarnai penderitaan dianggap terbayarkan dengan adanya hasil akhir yang membahagiakan. Ibarat pepatah, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak menyadari, bahwa sesungguhnya merasakan kebahagiaan bukan sepenuhnya monopoli episode akhir. Bahwa kebahagiaan bisa direngkuh bahkan pada titik “start”, dapat dirasakan dalam proses yang terus berjalan. Ya, kebahagiaan-kebahagiaan kecil namun istimewa sesungguhnya selalu mengelilingi kehidupan kita tanpa disadari. Ketika pagi ini kita masih bisa melihat senyum dari orang-orang terkasih – sesungguhnya satu poin kebahagiaan tengah kita peroleh. Ketika kita mendapati arus lalu lintas relatif lancar hari ini – kebahagiaan kembali menyapa. Ketika salah seorang teman menyadari kegundahan perasaan kita karena suatu masalah dan menawarkan bahunya – sesungguhnya satu poin lagi tengah bertambah. Ketika hal sederhana yang kita lakukan tampak berarti bagi orang lain hanya dengan seuntai “terima kasih” yang dikemas tulus – sesungguhnya kebahagiaan itu jelas terukir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan bukanlah suatu nilai yang terukur dengan nominal. Ia begitu kaya, dan tak akan pernah habis untuk dibagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu, saya selalu bermimpi untuk menjadi seseorang yang bahagia. Dan berharap kebahagiaan juga dirasakan oleh orang-orang di sekeliling saya. Nyatanya, perjalanan waktu semakin membuka mata saya, bahwa dunia ideal yang penuh kebahagiaan abadi hanyalah angan semu semata. Idealnya, saat seseorang merasa bahagia, kebahagiaan itu kemudian dapat menulari orang-orang di sekelilingnya. Dalam beberapa kesempatan, hal ini dapat terjadi – bayangkan sebuah acara ulang tahun yang dirayakan oleh seorang anak yang dipenuhi dengan sorak sorai dan gelak tawa bocah-bocah yang begitu antusias menikmati pesta. Sayangnya, ada kalanya dalam hidup ini kebahagiaan yang kita rasakan tidak sejalan dengan apa yang dirasakan oleh orang lain. Atau lebih buruk lagi – kebahagiaan bagi seseorang justru menjadi musibah bagi orang lainnya. Sesungguhnya ini adalah bentuk kebahagiaan yang paling tidak sehat. Masih layakkah ini disebut dengan kebahagiaan? Saya tidak akan mencoba menjustifikasi, karena ada banyak sekali variasi kasus yang mungkin terjadi, dan satu sama lainnya tidak dapat dipukul sama rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sampai saat ini masih saya yakini adalah – walaupun tak ada kebahagiaan abadi di dunia ini – tapi kebahagiaan itu tetap ADA. Tidak perlu beranjak jauh atau berpelesir ke seberang samudera untuk meraihnya, karena sesungguhnya ia selalu ada – jauh di dalam lubuk hati kita. Ia hanya membutuhkan perspektif yang berbeda untuk dapat dilihat – dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena terkadang kebahagiaan itu justru terbentang luas selama proses berlangsung, meski tersembunyi di balik ilalang dan batu kerikil masalah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Have you found them?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“We tend to forget that happiness doesn't come as a result of getting something we don't have, but rather of recognizing and appreciating what we do have.” &lt;/em&gt;– Frederick Keonig&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-9219102416314274693?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/9219102416314274693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=9219102416314274693' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/9219102416314274693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/9219102416314274693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2010/06/happiness.html' title='Happiness?'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-5651224618089406499</id><published>2010-05-17T02:56:00.000-07:00</published><updated>2010-05-17T03:12:10.303-07:00</updated><title type='text'>Just Another Random Note...</title><content type='html'>Last night, in the middle of "sliding" the material for examination next Wednesday, one of my bestfriend suddenly appeared in yahoo-messanger. And as usual, we had a labile-girls-night-talk. At that time, she sent me a link of a story taken from one of her friends' blog that she really loved. I've just copied little part of it below, but just the part that I really like... ^-^ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In love, we win very rarely, but when love is true, even if you lose, you still win just for having the tingle of loving someone more than you love yourself. There comes a time when we stop loving someone, not because that person has stopped loving us but because we have found out that, they’d be happier if we let go….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why do we close our eyes when we sleep? When we cry? When we imagine? When we kiss? This is because THE MOST BEAUTIFUL THINGS IN THE WORLD ARE UNSEEN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are things that we never want to let go of, people we never want to leave behind, but keep in mind that letting go isn’t the end of the world.&lt;br /&gt;It’s the beginning of a new life. Happiness lies for those who cry those who hurt, those who have searched and those who have tried. For only they can appreciate the importance of the people who have touched our &lt;br /&gt;lives.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A great love? It’s when you shed tears and still you care for them, it’s when they ignore you and still you long for them. It’s when they begin to love another and yet you smile and say, “I’m happy for you.” If love fails, set yourself free, let your heart spread its wings and fly again. Remember you may find love and lose it, but when love dies, you never have to die with it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The strongest people are not those who always win but those who stand back up when they fall. Somehow, along the course of life, you learn about yourself and realize that there should never be regrets, only a lifelong appreciation of the choices you’ve made. Loving is not how you forget but how you forgive, not how you listen but how you understand, not what you see but how you feel, and not how you let go but how you hold on.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s more dangerous to weep inwardly rather than outwardly. Outward tears can be wiped away while secret tears scar forever…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s best to wait for the one you want than settle for one that’s available. It’s best to wait for the right one because life is too short to waste on just someone...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...On the way home, D-2 examination...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-5651224618089406499?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/5651224618089406499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=5651224618089406499' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/5651224618089406499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/5651224618089406499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2010/05/last-night-in-middle-of-sliding.html' title='Just Another Random Note...'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-8079193699118929997</id><published>2010-05-09T05:51:00.000-07:00</published><updated>2010-05-09T06:29:18.308-07:00</updated><title type='text'>I've Just Realized...</title><content type='html'>Agak lucu memang, tapi adik bungsu saya kini masih berusia 2 tahun - baru akan masuk &lt;em&gt;playgroup&lt;/em&gt; di tahun ajaran mendatang. Bayangkan bagaimana reaksi orang yang melihat saya yang sudah mantap di usia kepala dua menggendong batita kecil yang bicaranya saja belum lancar. Wah, pastinya sering dikira ibu muda membawa anaknya jalan-jalan... ^-^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali tingkah polah menggemaskan yang dilakukan si kecil yang kadang suka berlagak &lt;em&gt;bossy&lt;/em&gt; ini. Mulai dari menyebut susu dengan sebutan "ais", memanggil mbak pengasuhnya dengan sebutan "ndut", hingga bergoyang-goyang (baca: joget) tak jelas saat mendengar alunan musik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi satu perilaku "ajaib" yang paling berkesan bagi saya adalah apa yang dia lakukan hari ini - yang sebenarnya juga pernah beberapa kali dia lakukan di waktu-waktu sebelumnya. Begitu saya sampai ke rumah (pulang dari kampus), dia langsung berlari ke arah saya, merengek minta digendong. Seisi rumah hanya tertawa heran, setengah meledek dia terlalu kangen sama mbaknya yang sering terlalu sibuk di luar rumah hingga jarang menemani ia bermain. Saya hanya tersenyum menanggapi, menyambut tangan mungilnya, mengangkat tubuhnya hingga kepalanya menempel di bahu saya. Namun rupanya pelukannya tak kunjung mengendur setelah beberapa saat. Dia menolak untuk melepaskan diri. Kepalanya terus menempel di pundak saya, dengan ekspresi setengah mengantuk - bukan ekspresi penuh semangat. Awalnya saya berpikir sebentar lagi dia akan tertidur - tapi rupanya tidak. Dia terus menerus membuka mata, tanpa mengoceh sepatah kata pun. Hanya diam, seakan menikmati ketenangan untuk beberapa saat. Ah, padahal saat itu benak saya tengah diliputi kegalauan. Ada masalah yang cukup menyita pikiran dan emosi, yang membuat saya pulang ke rumah dengan kepala mumet. Lucunya, benang kusut seakan perlahan mengurai setelah saya menggendong si kecil ini. Seperti sedang terapi relaksasi. ^-^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat, bahwa kejadiaan ini bukan pertama kalinya. Dulu, saat saya sedang dilanda problem yang cukup pelik, si adik juga menunjukkan gelagat yang sama. Mendadak menatap penuh arti dan minta digendong (cuma dengan kata-kata singkat: "ndong!). Terus menempel, tak mau dilepas. Agak pegal, memang... :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh menebak-nebak ngawur, si adik sepertinya paham kalau mbaknya sedang ada masalah, dan mencoba menghibur dengan caranya sendiri. Setengah iseng, saya berbisik ke telinganya dan bertanya: "Adek, kamu mau hibur mbak, ya?" Dan dia mengangguk polos - padahal mungkin dia sama sekali tidak mengerti apa yang saya ucapkan. Tetap saja, bagi saya ini adalah sesuatu yang sangat menentramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe...&lt;br /&gt;Bayi dan anak-anak memang manis, ya? ^-^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/S-a4hOYy_cI/AAAAAAAAACQ/2V2LIwxlwAA/s1600/DSC00340.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/S-a4hOYy_cI/AAAAAAAAACQ/2V2LIwxlwAA/s320/DSC00340.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5469261678425341378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-8079193699118929997?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/8079193699118929997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=8079193699118929997' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/8079193699118929997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/8079193699118929997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2010/05/ive-just-realized.html' title='I&apos;ve Just Realized...'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/S-a4hOYy_cI/AAAAAAAAACQ/2V2LIwxlwAA/s72-c/DSC00340.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-4166911457014893192</id><published>2010-05-03T09:07:00.000-07:00</published><updated>2010-05-05T05:33:46.345-07:00</updated><title type='text'>Between Remembering and Forgetting...</title><content type='html'>"Ra, kacamatanya mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kacamata apa, ya, Bun?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, tadi kan Bunda minta diambilin kacamata baca pas kamu sekalian ke kamar..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasti lupa, kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hehehe... iya, maaf ya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh, kok kameranya ga ada, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu terakhir taronya dimana? Suka &lt;em&gt;slordeh&lt;/em&gt; sih kamu..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar-benar ga inget, Yah..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, dia dulu teman SMP kita, ya? Anak kelas sebelah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu lho, yang berdiri di ujung sana... Bener, kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh, gw ga yakin..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Loe lupa? Rambutnya dulu sering dikuncir kuda, pake kawat gigi. Namanya XXX sesuatu. Inget?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I really have no idea who she is..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;et cetera. et cetera. et cetera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia ini, "lupa" telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan. Selama kita masih dapat "mengingat", maka kita akan terus dihantui risiko "melupakan". Manusia boleh jadi memiliki jutaan - atau mungkin milyaran sel otak di dalam kepalanya. Namun, ibarat kotak penyimpanan, ruang memori tentunya memiliki suatu limit, suatu batas kemampuan. Kita tidak bisa serta-merta memasukkan semua hal ke dalamnya, hanya beberapa hal yang dianggap penting dan dibutuhkanlah yang akan mengisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya lupa ini mungkin diciptakan sebagai penyeimbang agar otak manusia tidak terlalu lelah dan rumit dalam menyimpan berbagai bank data. Agak sulit memang untuk mengatur fungsi yang satu ini. Bayangkan saja bagaimana mereka harus memilah milih informasi penting dari jutaan lebih informasi yang berseliweran setiap harinya. Ada kondisi dimana kita berharap akan terus dapat mengingat sesuatu (seperti saat ujian) atau sebaliknya, kita bersikeras untuk melupakan sesuatu (umumnya menyangkut hal-hal yang menyakitkan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, tanpa kita sadari kita justru dengan mudah melupakan hal-hal yang seharusnya kita ingat. Atau justru terus teringat hal-hal yang sangat ingin kita lupakan. Agak ironis, memang. &lt;em&gt;But that so human&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat sebuah quote: "&lt;em&gt;Trying to forget someone that you love is like trying to remember someone you never met&lt;/em&gt;." Yup, ketika kita semakin keras berusaha melupakan sesuatu, kita justru akan semakin mengingatnya. Karena dalam benak kita akan terus tertuliskan "saya harus melupakan YYY... saya harus melupakan YYY..." yang terus menerus berulang, hingga tanpa sadar kita sebenarnya tengah menerapkan metode repetisi - pengulangan untuk memantapkan memori. Jadi, ketika kita benar-benar ingin melupakan sesuatu, cara terbaik adalah tidak memikirkannya sama sekali. Alihkan fokus ke hal-hal lain yang lebih positif. Maka tiba-tiba saja kita telah menjumpai diri kita telah melenggang santai, dan telah benar-benar lupa tentang hal itu. Atau walaupun kita tidak melupakannya, setidaknya hal itu tidak lagi menjadi masalah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;So... how about you, then? Think the same way?&lt;/em&gt; ^-^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;em&gt;well, don't take it too serious, because it's just another random talk note in the middle of the night...&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-4166911457014893192?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/4166911457014893192/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=4166911457014893192' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/4166911457014893192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/4166911457014893192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2010/05/between-remembering-and-forgetting.html' title='Between Remembering and Forgetting...'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-3465401944814241533</id><published>2010-04-26T07:28:00.000-07:00</published><updated>2010-05-09T06:34:01.022-07:00</updated><title type='text'>Crossroad...</title><content type='html'>&lt;a href="http://mybiglittleworld.files.wordpress.com/2009/08/crossroads.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 900px; height: 592px;" src="http://mybiglittleworld.files.wordpress.com/2009/08/crossroads.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah anda berada di tengah persimpangan - entah pertigaan atau perempatan atau bahkan lebih banyak cabang - dan menjumpai diri anda bingung memilih rute yang akan dilewati? Mungkin pertanyaan yang agak retoris, mengingat analogi semacam ini banyak dijumpai aplikasinya dalam kehidupan nyata. Sebut saja contoh sederhana ketika pagi hari anda selesai mandi dan bergegas menuju lemari yang penuh berisi pakaian. Anda, sadar atau tidak, tentu akan berpikir: pakaian apa yang sebaiknya saya kenakan hari ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang bilang, hidup itu pilihan. Kalau menurut saya, hidup itu adalah tentang memilih. Dari sejuta opsi yang tersaji di depan mata, manakah pilihan yang kita ambil? Beberapa pilihan boleh jadi mudah ditentukan atau tidak sulit diputuskan. Namun, banyak diantaranya menguras cukup banyak waktu, pikiran, tenaga, bahkan emosi hanya untuk membuat suatu keputusan; sebuah pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pilihan tentunya membawa konsekuensi tersendiri. Ketika kita telah merasa cukup berani untuk memutuskan, artinya kita harus bersiap dengan segala risiko yang ada di balik setiap pilihan. Salah seorang teman mengajarkan saya bahwa menyesali suatu keputusan adalah suatu pantangan. Karena sekedar penyesalan hanyalah suatu kesia-siaan, dan beratnya dampak dari suatu keputusan merupakan "satu paket" yang tidak terpisahkan dari pilihan itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan ini ibarat suatu perjalanan panjang, dimana tidak ada arah putar balik. Sekali melaju, kita tidak dapat kembali ke titik yang telah kita tinggalkan. Maka ketika kita menyadari bahwa kita memilih jalan yang salah, yang bisa kita lakukan adalah segera mencari persimpangan lainnya untuk mengubah haluan. Bukan untuk berputar ke belakang, melainkan untuk kembali melanjutkan ke jalan yang sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri pernah mengalami fase yang cukup rumit dimana saya mulai menyadari bahwa jalan yang tengah saya lalui begitu kompleks. Laksana berjalan di antara taman bunga yang begitu indah menawan, namun entah mengapa nafas terasa sesak karena oksigen yang begitu tipis. Ketika akhirnya persimpangan itu datang lagi, saya memutuskan untuk memilih jalan lain. Ya, akhirnya kelegaan menyambut, menghirup udara terasa begitu menyegarkan. Namun, tak lama sesudahnya saya segera menyadari - hanya kekosongan yang menghampar luas di sekeliling perjalanan ini, ladang tandus yang jauh dari keindahan. Seketika terasa ada lubang besar yang muncul, seperti ada sesuatu yang benar-benar mengganjal... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, kita telah dibekali akal untuk dapat menimbang suatu pilihan dengan logika. Jikalau hati telah menunjukkan suatu keputusan, otak dengan sendirinya akan mulai memperhitungkan konsekuensi-konsekuensi yang akan timbul. Maka seyogyanya pilihan yang kita ambil ini adalah keputusan yang dihasilkan dari pertimbangan matang, bukan karena tekanan atau emosi sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, berteori dan berkata-kata jauh lebih mudah dibandingkan mewujudkannya dalam realita... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... &lt;em&gt;just another weird note of mine, though&lt;/em&gt;...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-3465401944814241533?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/3465401944814241533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=3465401944814241533' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/3465401944814241533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/3465401944814241533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2010/04/crossroad.html' title='Crossroad...'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-6363836707526457611</id><published>2010-04-14T03:45:00.000-07:00</published><updated>2010-04-14T03:50:49.616-07:00</updated><title type='text'>Amazing Beauty...</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/S8Wd_633JnI/AAAAAAAAACI/jFUuqRFDMa0/s1600/26876_418755320940_518190940_5704156_8246384_n.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/S8Wd_633JnI/AAAAAAAAACI/jFUuqRFDMa0/s400/26876_418755320940_518190940_5704156_8246384_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5459943844717471346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;You can call it "rainbow", "iris", "bianglala", or "pelangi"...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But remember...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Jika kau menginginkan pelangi, maka kau harus siap menghadapi hujan..."&lt;/strong&gt;-- one of my fave quote --&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-6363836707526457611?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/6363836707526457611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=6363836707526457611' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/6363836707526457611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/6363836707526457611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2010/04/amazing-beauty.html' title='Amazing Beauty...'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/S8Wd_633JnI/AAAAAAAAACI/jFUuqRFDMa0/s72-c/26876_418755320940_518190940_5704156_8246384_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-9218055595755089414</id><published>2010-04-02T05:16:00.000-07:00</published><updated>2010-04-02T05:35:14.147-07:00</updated><title type='text'>Being 20 Something Is Hard?</title><content type='html'>Banyak orang bilang, perjalanan waktu – baik disadari atau tidak – perlahan akan membawa seseorang menjadi sosok yang berbeda. Berubah menjadi lebih baik, melenceng menjadi lebih buruk, atau bahkan perubahan yang tak dapat didefinisikan sebagai suatu perbaikan atau perburukan – ibarat mengganti warna seprai tempat tidur antara hijau dan biru, warna yang satu tak lebih indah dari yang lainnya – hanya memberikan nuansa yang “lain”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh sederhananya: jika zaman SD dulu kita memiliki seorang teman yang sangat lincah, ceria, dengan wajah bulat kekanakan – bukan hal mengejutkan bila saat ini, beberapa tahun kemudian, ia telah tumbuh menjadi sosok dengan pembawaan yang jauh lebih tenang dan wajah nyaris tidak dapat dikenali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, waktu memang telah begitu lama menjadi sahabat karib perubahan. Karena saya percaya, &lt;em&gt;people need  time to change&lt;/em&gt;. Perubahan bukanlah suatu hal yang instan, bila kau menginginkannya sebagai suatu hal yang persisten. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ulat bulu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://migration.kentucky.gov/NR/rdonlyres/7B15732A-6D0A-46BC-8550-B8EA1867EA02/0/caterpillar.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 384px; height: 576px;" src="http://migration.kentucky.gov/NR/rdonlyres/7B15732A-6D0A-46BC-8550-B8EA1867EA02/0/caterpillar.jpeg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://farm4.static.flickr.com/3113/2587635121_94f1102973.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 500px; height: 375px;" src="http://farm4.static.flickr.com/3113/2587635121_94f1102973.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja yang menjumpai hal yang tengah saya alami saat ini adalah sosok diri saya beberapa tahun lalu yang masih begitu rapuh dan labil, mungkin sekarang saya akan mendapati diri saya tengah mengunci diri di kamar, sibuk meratapi permasalahan yang tengah saya alami, menyesali apa-apa yang sudah terjadi. Tapi… saya yang sekarang sudah terlalu lelah dengan itu semua. Menangis mungkin bisa menjadi cara positif untuk meluapkan emosi tanpa mengusik orang lain, tapi membiarkan kelenjar lakrimalismu bekerja keras tidak akan bisa menguraikan benang kusut di hadapanmu. &lt;em&gt;You have to wipe your tears quickly and move on&lt;/em&gt;. Hidup terlalu berharga untuk diisi dengan penyesalan semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita telah menjadi seseorang yang dewasa secara usia – secara tidak langsung kita dipaksa untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh menjalani kehidupan. Tidak ada lagi rengekan ala anak-anak saat segala sesuatu tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Apapun keputusan yang kita ambil, kita harus siap menerima segala konsekuensi yang menanti di baliknya, seberapapun pahitnya itu. Karena segala sesuatu itu adalah pembelajaran bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita menerima, kita belajar untuk memberi…&lt;br /&gt;Ketika kita merasa sakit, kita belajar untuk tidak menyakiti…&lt;br /&gt;Ketika kita tertawa, kita belajar untuk berbagi kebahagiaan…&lt;br /&gt;Ketika kita terjatuh, kita belajar untuk segera bangkit…&lt;br /&gt;Ketika kita marah, kita belajar untuk mengendalikan emosi…&lt;br /&gt;Ketika kita kecewa, kita belajar untuk memberikan yang terbaik…&lt;br /&gt;Ketika kemalangan dan kesedihan menerpa, kita belajar untuk mengambil hikmah darinya…&lt;br /&gt;Karena kita tengah belajar di sekolah terbaik di dunia, kawan…&lt;br /&gt;Dan sekolah terbaik itu… bernama “kehidupan”…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa hari ke depan, angka usia saya di dunia ini akan bertambah satu. Pertambahan angka yang tentunya berbanding lurus dengan berkurangnya jatah kehidupan saya di dunia fana ini. Saya menyadari, selama dua puluh tahun kehidupan yang saya jalani, masih banyak kekhilafan yang saya lakukan. Setahun belakangan ini telah menjadi masa yang penuh warna dan cerita, mulai dari yang membahagiakan hingga yang menorehkan kesedihan – hal yang amat sangat saya syukuri bisa saya rengkuh dengan penuh suka cita. Namun, sebagai pribadi rasanya masih banyak kesempatan baik yang saya lewatkan – hal-hal yang sebenarnya bisa saya perjuangkan dengan lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah masih mengizinkan saya untuk melangkah ke depan, menjadi pribadi yang lebih baik. Kesempurnaan bagi manusia memang suatu kemustahilan, tapi mengupayakan yang terbaik adalah kewajiban kita sebagai seorang manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum bila kaum itu tidak berusaha untuk mengubah nasibnya sendiri?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-9218055595755089414?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/9218055595755089414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=9218055595755089414' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/9218055595755089414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/9218055595755089414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2010/04/being-20-something-is-hard.html' title='Being 20 Something Is Hard?'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://farm4.static.flickr.com/3113/2587635121_94f1102973_t.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-1141037742851763749</id><published>2010-03-28T05:11:00.000-07:00</published><updated>2010-03-28T05:31:28.894-07:00</updated><title type='text'>TIGA</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.babyphotospictures.com/thumb/colorful-babies-sleeping-together.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 540px; height: 405px;" src="http://www.babyphotospictures.com/thumb/colorful-babies-sleeping-together.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;I really love number 3.&lt;br /&gt;If you ask why – well my answer will be this simple: “I dunno”.&lt;br /&gt;It’s because I really have no idea, what exactly the main reason that makes me like this number. Maybe it’s just like when people have their own favorite color. Just love it, without knowing why and how it started.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sebagai turunannya, saya paling suka tanggal 3 Maret. Mungkin karena ini merujuk pada hari ke-3 di bulan ke-3. Tanpa ada agenda spesial di hari itu. &lt;em&gt;Just an ordinary day.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, ketika satu terasa membahagiakan, kelipatannya justru berkebalikan. Kemarin – tanggal 27 Maret, yang secara asal-asalan saya polakan sebagai (3.3.3)3 – terasa sebagai hari yang sangat berat dan melelahkan. Baik jiwa maupun raga. Untuk alasan yang tidak bisa saya tuangkan dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tidak mau, saya jadi teringat cerita pendek karya Dee dalam salah satu buku favorit saya (Filosofi Kopi) yang berjudul “Mencari Herman”. Kutipan di bagian akhir cerita itu tiba-tiba saja muncul dalam benak liar saya yang mengelana, tepat ketika bola mata menangkap tulisan angka “27 Maret” di layar komputer saya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kau menginginkan satu, jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hal ini (kutipan dari cerita dan keresahan yang saya alami kemarin) sebenarnya tidak memiliki benang merah secara eksplisit. Tapi entah kenapa saya tergelitik untuk menuangkannya di postingan blog. Mungkin ini hanya salah satu pelampiasan saya – antara sadar dan tidak mau menyadari – di sela kejenuhan mengerjakan tugas-tugas. Mungkin…&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;...tampaknya beberapa waktu belakangan postingan di blog ini semakin tak jelas saja...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-1141037742851763749?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/1141037742851763749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=1141037742851763749' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/1141037742851763749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/1141037742851763749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2010/03/i-really-love-number-3.html' title='TIGA'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-4375651803714474223</id><published>2010-03-27T05:43:00.000-07:00</published><updated>2010-03-27T07:33:30.489-07:00</updated><title type='text'>I Remember...</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/S64PxYlbb3I/AAAAAAAAAB4/IgZfxME_T00/s1600/Dancing_in_The_Rain_by_AnkyShpanky.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453313539879694194" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 299px; CURSOR: hand; HEIGHT: 440px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/S64PxYlbb3I/AAAAAAAAAB4/IgZfxME_T00/s400/Dancing_in_The_Rain_by_AnkyShpanky.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;I remember... &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The way you glanced at me, yes I remember&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;I remember... &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;When we caught a shooting star, yes I remember&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;I remember... &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;All the things that we shared, and the promise we made, just you and I&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;I remember... &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Do you remember... ? &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;When we were dancing in the rain in that december&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;And I remember... &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;When my father thought you were a burglar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;I remember... &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;All the things that we shared, and the promise we made, just you and I&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;I remember... &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;I remember... &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The way you read your books, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yes I remember&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The way you tied your shoes, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yes I remember&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The cake you loved the most, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yes I remember&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The way you drank you coffee, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;I remember&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The way you glanced at me, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;yes I remember&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;When we caught a shooting star, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yes I remember&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;When we were dancing in the rain in that december&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;And the way you smile at me, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yes I remember&lt;/em&gt; &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;(lyric by: Mocca)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453309268183726034" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 256px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/S64L4vRvt9I/AAAAAAAAABw/OAw_CRq1vYY/s400/dancing+in+the+rain.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***************&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tiba-tiba saja, saat gemericik hujan terdengar di luar sana, saya teringat lagu ini. &lt;em&gt;What a sweet song, with simple but wonderful words... The sad thing is, the lyric is using "remember", seems like it just an unforgettable memory that happened in the past but already far away from this moment...&lt;/em&gt; :( &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-4375651803714474223?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/4375651803714474223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=4375651803714474223' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/4375651803714474223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/4375651803714474223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2010/03/i-remember.html' title='I Remember...'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/S64PxYlbb3I/AAAAAAAAAB4/IgZfxME_T00/s72-c/Dancing_in_The_Rain_by_AnkyShpanky.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-8711278502049976783</id><published>2010-03-13T08:42:00.000-08:00</published><updated>2010-03-13T08:45:03.241-08:00</updated><title type='text'>Road of Life</title><content type='html'>&lt;a href="http://blog4dw.files.wordpress.com/2009/04/rainbow-after-a-storm.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 800px; CURSOR: hand; HEIGHT: 535px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://blog4dw.files.wordpress.com/2009/04/rainbow-after-a-storm.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berjalan melewati rerumputan &lt;strong&gt;hijau&lt;/strong&gt;, berkubahkan &lt;strong&gt;pelangi&lt;/strong&gt;...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Where and when the road will ended?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-8711278502049976783?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/8711278502049976783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=8711278502049976783' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/8711278502049976783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/8711278502049976783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2010/03/road-of-life.html' title='Road of Life'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-1209643102537909332</id><published>2010-03-13T08:02:00.000-08:00</published><updated>2010-03-13T08:37:45.216-08:00</updated><title type='text'>Marriage</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.mgcpuzzles.com/mgcpuzzles/images/all_new_core_images/Wedding_puzzle_art/1_marriage_proposals/boy_proposing_marriage-A.jpg"&gt;&lt;img style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 700px; CURSOR: hand; HEIGHT: 483px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://www.mgcpuzzles.com/mgcpuzzles/images/all_new_core_images/Wedding_puzzle_art/1_marriage_proposals/boy_proposing_marriage-A.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ehm, setelah sekian lama tidak menyetor tulisan di blog, mengapa saya tiba-tiba mengangkat judul di atas sebagai tema?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya krisis paruh-baya dini mulai melanda.&lt;br /&gt;Hahaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak mulai menginjak usia kepala dua, entah kenapa saya mendapati satu-persatu orang di sekitar yang sebaya dengan saya memutuskan untuk menikah. Mulai dari sepupu, anak teman orangtua saya, teman sekolah (bukan kuliah), bahkan teman adik saya. Beberapa di antaranya amat-sangat bisa dimaklumi (memang sudah terbilang mapan, usia mendukung, insya Allah siap lahir-batin ^-^). Beberapa di antaranya cukup mengejutkan dan menimbulkan kehebohan. (Yah ini mungkin respon denial sesaat saya karena tidak menyangka beberapa orang ini akan menikah secepat itu) Masih terbayang dengan sangat jelas, satu di antaranya memiliki tingkah-polah kekanakan, bahkan sudah seperti adik saya sendiri. Yang satu lagi saya kenal baik jaman kecil dulu – masih terbayang sosok mungil berkaus singlet yang kadang-kadang masih suka ngedot susu. Yup, minum susu botol ala bayi. Dan tiba-tiba, setelah sekian lama tak berjumpa, selembar (ups ralat, seamplop) undangan pernikahannya di pertengahan tahun ini dikirimkan ke rumah saya. Huaaaaa… *&lt;em&gt;Shocked&lt;/em&gt; &gt;-&lt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Antara salut, bingung, takjub, geleng-geleng kepala mendapati mereka yang begitu berani memutuskan untuk mengawali kehidupan pernikahan di usia yang masih sangat muda. Saat saya masih pontang-panting mengurus diri sendiri (di sela kegiatan kampus baik akademis dan non-akademis plus aktivitas-aktivitas berbasis kepentingan pribadi), mereka sudah ditantang untuk mengurus keluarga (suami, anak --&gt; ditambah mertua, mungkin? Hehehe :)). Dan lucunya, pertanyaan keramat nan iseng mulai bermunculan: “Kapan nyusul?” Hyaaaa… boro-boro atuh pakde, bude, om, tante… Ini kuliah belum beres, riset belum maju sidang, ujian masih terseok-seok, plus kekurangan sana-sini yang masih butuh tambalan. Intinya: saya belum siap! Cuma itu? Tentu tidak. Calonnya juga belum jelas. Hahaha… *sepertinya akan sulit menjumpai orang dengan modal tekad yang nekat menembus “barikade” yang terpasang mengelilingi benteng. &lt;em&gt;But like one of Taylor Swift’s lyric says: “…cause I’m not a princess. And this isn’t fairy tale…”, so there isn’t any prince or white horse&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, cukup introduksi tak jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Let’s just continue talking about the thing called “marriage”.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Wikipedia (sumber yang amat sangat tidak direkomendasikan untuk referensi tulisan ilmiah dan sejenisnya tapi sah-sah saja sebagai rujukan blog iseng-iseng), &lt;strong&gt;Pernikahan&lt;/strong&gt; adalah upacara pengikatan janji nikah &lt;span style="color:#000000;"&gt;yang&lt;/span&gt; dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan suatu ikatan secara hukum agama, hukum negara, dan hukum adat. Hukum agama --&gt; akad nikah bagi yang beragama muslim; negara --&gt; buku dan akte nikah (atau sejenisnya, saya kurang paham); dan adat --&gt; prosesi-prosesi khas yang biasanya berjalan serangkaian mulai dari lamaran hingga resepsi (maklum, budaya daerah di Indonesia masih sangat kental). Poin terakhir inilah yang biasanya paling menyita banyak waktu, tenaga, pikiran, dan (tentu saja) uang. Bayangkan saja, dalam sekali resepsi ada berapa banyak anggota keluarga besar dan kerabat yang diundang (lagi-lagi, ini budaya tak tertulis di negara kita).. Menyewa gedung berdekorasi khusus dan memesan katering dengan aneka menu sudah jadi hal yang lumrah. Tak jarang, ini menjadi ajang menunjukkan gengsi keluarga (&lt;em&gt;side effect&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;main effect&lt;/em&gt;-nya katanya kan silaturahmi dan berbagi kebahagiaan ^-^) Bisa-bisa uang tabungan untuk biaya hidup setelah menikah malah terkuras habis-habisan di hari pernikahan. Nah lho… *Nggak juga deng, kan tergantung kemampuan juga. Dan biasanya dana ini cenderung ditanggung orangtua si mempelai…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dongeng-dongeng seringkali menjadikan pernikahan sebagai “&lt;em&gt;happy-ending&lt;/em&gt;”, nyatanya tidak demikian di kehidupan nyata. Pernikahan justru awal, babak baru dalam perjalanan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;There is one quote about marriage that I really love:&lt;br /&gt;“Marriage is not a noun; it’s a verb. It isn’t something you get. It’s something you do. It’s the way you love your partner everyday”&lt;/em&gt; – Barbara de Angelis –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;And yes, it’s not the end. It’s just the beginning of another story. ^-^&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kisah yang alurnya tidak bisa ditebak, tergantung bagaimana si pelakon memainkan jalinan ceritanya. Bayangkan saja, bagaimana pernikahan secara “mengikat” mempersatukan dua kepala berbeda untuk menjalani satu visi yang sama: &lt;em&gt;a happy marriage&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Well, some people say it’s about understanding and receiving. But I think it’s a lot more than that.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentunya, kisah itu akan semakin indah dan sempurna bila diwarnai dengan tangis dan tawa dari tubuh-tubuh mungil yang menggeliat lincah meramaikan suasana kebahagiaan di rumah. Yup, &lt;em&gt;I’m talking about the children&lt;/em&gt;. Kalau kata salah satu petugas TU yang jadi langganan mampir anak-anak di kampus saya (sebut saja mbak E, nama sebenarnya disamarkan untuk melindungi privasi beliau. Hehehe), salah satu tujuan pernikahan ya untuk memperoleh keturunan. Kalau menikah tapi sok-sokan menunda kehamilan atau ikut program KB di awal… mending ga usah nikah dulu aja, atuh! (ini kata si mbak lho, bukan saya. &lt;em&gt;Peace ^-^&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Buat teman-teman yang sudah menikah, semoga pernikahannya langgeng… &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Buat teman-teman yang akan menikah, semoga urusannya dilancarkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat teman-teman yang ngebet nikah (ehm ehm), yang sabar ya… hahaha (dan semoga bisa mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Buat teman-teman yang (katanya) tidak mau menikah (entah karena desperado atau dapat ilham dari antah berantah)… semoga dibukakan pintu hatinya *&lt;em&gt;peace&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;“&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://thinkexist.com/quotation/remember_that_a_successful_marriage_depends_on/175872.html"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;Remember that a successful marriage depends on two things: (1) finding the right person and (2) being the right person&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;em&gt;”&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;...saturday night note&lt;/em&gt;, 13.03.2010...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-1209643102537909332?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/1209643102537909332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=1209643102537909332' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/1209643102537909332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/1209643102537909332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2010/03/marriage.html' title='Marriage'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-2200177459883499899</id><published>2009-11-22T19:43:00.000-08:00</published><updated>2010-05-09T06:36:53.645-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komitmen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemimpin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kontribusi'/><title type='text'>Tiba-tiba Saja Terpikir...</title><content type='html'>Seorang pemimpin bukanlah apa-apa atau siapa-siapa tanpa orang-orang yang dipimpinnya. Dalam artian, apakah seseorang masih dapat dikatakan seorang pemimpin bila tidak ada orang-orang yang siap mendukung kepemimpinannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika semua orang tengah bereuforia menyambut calon-calon pemimpin masa depan, saya justru memikirkan hal lain: sudahkah kita mempersiapkan DIRI KITA dengan sebaik-baiknya untuk turut serta dalam membangun hari esok yang lebih baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, saya bukan tipikal orang yang senang menuntut banyak pada orang lain. Atau secara sederhana, saya paling tidak suka memaksakan seseorang melakukan suatu hal dengan standar yang saya sendiri mungkin belum bisa mencapainya. Oke, (lagi-lagi) mungkin hal ini hanya berlaku untuk hal-hal yang bersifat universal, karena kita tidak bisa memungkiri bahwa setiap orang memiliki “warna”nya masing-masing. Maksud saya, kita tidak bisa menampik bahwa ada orang-orang yang memiliki kualitas dalam hal tertentu, lebih baik dari hal lainnya. Sebut saja beberapa orang dapat dengan tenang – tanpa gentar sedikit pun – menghadapi sekerumunan massa dan berbicara dengan lugas. Atau beberapa orang lainnya seakan punya begitu banyak simpanan ide brilian di kepalanya, yang selalu memberikan “nafas segar” ketika orang-orang di sekelilingnya nyaris menemui jalan buntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada berjuta bentuk kualitas diri, begitu banyak warna, tapi menurut saya ada suatu kualitas yang seringkali dikesampingkan atau bahkan tidak dianggap sebagai suatu kualitas: “Komitmen &amp;amp; Loyalitas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, saya saya pernah merasa begitu rendah diri dibandingkan teman-teman di sekitar yang begitu luar biasa. Saya merasa tidak banyak yang bisa saya berikan. Saya merasa begitu tidak produktif. Saya terang-terangan pernah menyatakan rasa ini ke salah seorang teman, yang kemudian membesarkan hati saya. “Jangan pernah menyepelekan kontribusi sekecil apapun yang pernah kamu berikan, karena kamu mungkin tidak tahu betapa berharganya itu bagi orang lain”. Maka, dengan segenap upaya saya coba untuk mempertahankan komitmen yang telah dibangun di awal, dan berusaha untuk loyal pada tiap kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya saya tidak yakin. Bagaimana bisa keberadaan seseorang yang hanya “duduk-manis-diam-mendengarkan” tampak berharga dibandingkan figur “aktif-dinamis-penuh ide-komunikatif-dan sebagainya”?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, perjalanan waktu mematahkan keraguan itu. Perlahan, saya mulai dapat memahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kalian bayangkan, bila dalam sebuah pertemuan – atau sebuah rapat, semua anggota yang hadir berlomba-lomba untuk berbicara, mengeluarkan ide dan pendapat masing-masing, tanpa ada yang berusaha mengalah untuk mendengar? Ironis, bila dibandingkan dengan pepatah yang baru saja kembali diucapkan salah seorang teman beberapa waktu yang lalu “Manusia terlahir dengan dua telinga dan satu mulut, agar ia dapat mendengar lebih banyak”. Bahkan salah satu mata kuliah di kampus kita tercinta pun mengajarkan suatu teknik “mendengar aktif” – sebagai metode untuk meningkatkan kualitas komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata, keberadaan orang lain di sekitar kita – bahkan hanya dengan melihat mereka saja – dapat menumbuhkan semangat bagi diri kita. Karena kita merasa aman, karena kita merasa selalu ada orang-orang yang menemani di samping kita – orang-orang yang siap berjuang bersama. Hanya dengan melihat binar semangat di mata mereka, dapat melipatgandakan energi yang tadinya nyaris terkuras habis. Tentunya, berjuang bersama akan terasa lebih ringan dibanding berjuang seorang diri, kan? ^-^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagaimana dengan kontribusi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memang selalu punya rencana bagi hamba-Nya. Justru di saat saya berkecil hati karena merasa tidak pernah memberikan sesuatu, Ia memberikan amanah yang akhirnya membuka kesempatan bagi saya untuk bisa berkontribusi seluas-luasnya. Ya, kesempatan itu datang, justru saat kita pernah merasa sebagai orang yang nyaris tidak pantas untuk itu. Seorang teman lainnnya berkata, “Loe ingat pernah merasa nggak kerja apa-apa selama ini? Mungkin inilah kesempatan buat loe, untuk bisa berkontribusi lebih!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, agak sedih rasanya ketika mendengar seseorang memutuskan untuk meninggalkan suatu hal, karena ia merasa tidak banyak berkontribusi di dalamnya. Bukan ilmu, bukan keahlian, bukan kecemerlangan potensi diri saja yang akan membuatmu “hidup” dalam suatu lingkup – khususnya dalam suatu organisasi. Yang paling penting adalah menjaga komitmen awal, dan menunjukkan loyalitas terhadap sekitarmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai kita menjadi bagian dari orang yang sibuk berseru kencang di titik start, namun kemudian menghilang begitu saja ketika akhirnya “mobil" itu berhasil melaju…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-2200177459883499899?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/2200177459883499899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=2200177459883499899' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/2200177459883499899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/2200177459883499899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2009/11/blog-post.html' title='Tiba-tiba Saja Terpikir...'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-1151797868682700535</id><published>2009-09-23T08:23:00.000-07:00</published><updated>2009-09-23T08:34:15.108-07:00</updated><title type='text'>Talking About Love...</title><content type='html'>&lt;em&gt;Jika cinta hanya membawa kepedihan&lt;br /&gt;Maka sejatinya ia hanya bayang semu kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika emosimu membuncah&lt;br /&gt;Ketika tangismu melimpah ruah&lt;br /&gt;Ketika jiwamu hanya diselimuti amarah&lt;br /&gt;Makna cinta tak lebih dari sebuah ketiadaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta bukan perkara siapa berkekasih siapa&lt;br /&gt;Tapi bagaimana engkau mengasihi yang kaucinta&lt;br /&gt;Bukan perkara kepemilikan hati&lt;br /&gt;Melainkan ketulusan hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang menyerukan cinta&lt;br /&gt;Belum tentu mengukir cinta di hatinya&lt;br /&gt;Karena ia bukan sekedar kata&lt;br /&gt;Ia adalah rasa&lt;br /&gt;Walaupun matamu tak dapat memvisualisasikannya&lt;br /&gt;Walaupun kedua tanganmu tak dapat merabanya&lt;br /&gt;Ia ada&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta. Sebuah kata dengan sejuta makna. Berbagai tulisan berlomba-lomba mengangkatnya sebagai tema. Begitu banyak lagu, puisi, film, dan karya seni lainnya dihasilkan atas nama cinta. Namun, tak ada yang bisa mendefinisikannya dengan pasti. Karena ia terlalu abstrak, terlalu sulit untuk diterjemahkan oleh sekedar untaian alfabetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang mengaku sedih karena cinta. Kecewa karena cinta. Sakit hati karena cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebaliknya, ada pula yang tersenyum karena cinta. Bahkan tertawa. Karena mereka bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada begitu banyak bentuk cinta di dunia ini, tapi entah mengapa saya merasa bahwa cinta yang melulu dibahas hanya cinta antar sepasang anak manusia berlainan jenis kelamin – cinta antar sepasang kekasih. Coba hitung, ada berapa banyak film, buku, dan lagu populer yang mengusung cinta jenis ini dalam “nafas”-nya? Tak jarang, hal ini justru mengesampingkan bentuk cinta yang lain. Sebut saja, kisah-kisah tentang hubungan sepasang pemuda-pemudi yang ditentang oleh kedua keluarga. Khas kisah “Romeo &amp;amp; Juliet” – namun dengan sentuhan yang lebih modern. Okelah, bila memang dalam film atau sinetron umumnya jalinan cerita sengaja dikemas hiperbolis, sehingga kadang ada kesan kedua tokoh utama = super protagonis, sementara keluarga = luar biasa antagonis, jahat, punya pemikiran luar biasa picik, dan segala sifat buruk lainnya. Tapi bila kita mencoba meresapi baik-baik, apa memang demikian adanya? Adakah orangtua yang tidak menginginkan kebahagiaan bagi anaknya?&lt;br /&gt;Saya punya sedikit kekhawatiran – yang mungkin agak berlebihan – bila tayangan semacam ini terus merajalela, mau tidak mau paradigma yang terbentuk adalah: tidak apa-apa kau meninggalkan keluargamu untuk meraih cinta sejatimu. Padahal, itu berarti, kita melepas satu cinta, untuk mengejar cinta lainnya. Apakah itu sepadan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dongeng kita seringkali terbuai dengan untaian kata “… &lt;em&gt;and they live happily ever after&lt;/em&gt;…” setelah sang tokoh utama bertemu dengan pasangannya. Ingat kisah Cinderella? Tentunya kisah upik abu legendaris yang berhasil dipersunting seorang prince charming menjadi salah satu kisah favorit anak-anak perempuan di seluruh belahan dunia (atau setidaknya itu yang saya alami ^-^). Tidak ada dongeng lanjutan yang pernah menceritakan bagaimana beratnya kehidupan istana yang harus dijalani oleh putri sepatu kaca tersebut. Setelah menikah, kisah dengan sendirinya &lt;em&gt;happy ending&lt;/em&gt;. Titik. &lt;em&gt;But how about the reality&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pasangan yang menikah karena cinta – atas dasar suka sama suka, akhirnya bercerai karena berbagai alasan. Masalah kekerasan dalam rumah tangga juga menjadi isu hangat yang diperbincangkan di masyarakat (khususnya di negara tercinta kita ini, dimana gosip laku keras melebihi kacang goreng yang diobral. Lihat saja betapa banyak tayangan infotainment menguasai jam tayang di dunia pertelevisian). Inilah kenyataan yang sering dikaburkan dalam kisah fiksi yang bertabur keindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba bayangkan, bagaimana perasaan seorang ibu – yang telah mengandung selama sembilan bulan, yang menyambut tangis pertama bayi mungilnya dengan airmata bahagia walau rasa sakit tak tertahankan menjalari tubuhnya, yang membesarkan anaknya dengan cinta yang demikian besar dan tulus – mendapati buah hatinya memilih meninggalkannya untuk lari bersama seseorang yang baru dikenalnya, atas nama cinta? Lantas, bila demikian, siapa pihak yang tidak memahami makna cinta itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa cinta punya begitu banyak rupa, saya sepakat. Dan alangkah baiknya jika satu sama lain tidak saling berlomba untuk menang. Karena perkara mencintai bukanlah kompetisi. Bukan masalah memilih antar satu dengan yang lainnya. Cinta tidak akan habis walaupun kau bagi, sebanyak apapun hati yang menanti untuk mendapat bagian. Kau mungkin tidak bisa mengukur sebesar apa cinta di hatimu, namun yakinlah, bahwa ia ada, dan ia demikian besar. Insya Allah… ^-^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dedicated to people that I love:&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Keluargaku…&lt;br /&gt;Sahabat-sahabatku…&lt;br /&gt;Semua yang pernah singgah di hari-hari sepanjang hidupku, menorehkan makna…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Thank’s for the greatest love that you’d gave to me&lt;/em&gt;… ^-^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***Alhamdulillah, rasa syukur yang begitu besar kupanjatkan kepada Allah yang telah memberikan hidup yang begitu istimewa…***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-1151797868682700535?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/1151797868682700535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=1151797868682700535' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/1151797868682700535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/1151797868682700535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2009/09/talking-about-love.html' title='Talking About Love...'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-2777949706989827561</id><published>2009-08-26T16:34:00.000-07:00</published><updated>2009-08-26T16:38:03.688-07:00</updated><title type='text'>What I Think Just Now...</title><content type='html'>&lt;em&gt;Terkadang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Seseorang terlalu sibuk berusaha meraih hal-hal besar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan lupa merengkuh titik-titik kecil yang telah berhasil diperolehnya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Padahal sebongkah batu besar pun disusun oleh partikel-partikel zat padat yang sedemikian kecil&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Terkadang&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Seseorang terlalu bersemangat finding “the right one”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tanpa menyadari bahwa di sampingnya telah ada “someone”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mungkin tanpa wajah rupawan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Namun berhati menawan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Terkadang &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Seseorang terlalu iri melihat kenikmatan yang direguk orang lain&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan tak mensyukuri kepingan anugerah yang telah dilimpahkan padanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa harta melimpah?&lt;br /&gt;Bila jiwamu tetap miskin&lt;br /&gt;Untuk apa menjadi pujaan?&lt;br /&gt;Bila hatimu masih kosong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa kau mengharap lebih?&lt;br /&gt;Sebelum kau menghargai apa yang ada di genggamanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua yang bijak tidak akan membelikan mainan baru bagi anak yang tidak mau bertanggungjawab merawat dan menjaga mainannya sendiri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tidak semua orang seberuntung dirimu yang dapat membaca tulisan ini dengan kedua mata indahmu, kawan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ingin sekedar berbagi, untuk diri yang sedang diselimuti kegalauan.... Semoga bermanfaat!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-2777949706989827561?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/2777949706989827561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=2777949706989827561' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/2777949706989827561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/2777949706989827561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2009/08/what-i-think-just-now.html' title='What I Think Just Now...'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-1500797575060754441</id><published>2009-08-26T16:22:00.000-07:00</published><updated>2009-12-18T17:43:23.280-08:00</updated><title type='text'>What Will You Do If You See A Beggar?</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/SywvkQVdYEI/AAAAAAAAABo/Ij01qkQkYXs/s1600-h/Beggar.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416756751726633026" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 277px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/SywvkQVdYEI/AAAAAAAAABo/Ij01qkQkYXs/s400/Beggar.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;a. Pura-pura tidak melihat&lt;br /&gt;b. Memandang dengan sinis&lt;br /&gt;c. Menggerakkan tangan sebagai isyarat penolakan halus&lt;br /&gt;d. Mengomel&lt;br /&gt;e. Memberi sedekah&lt;br /&gt;f. …………………. (isi sendiri dengan jawaban ala dirimu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;************************************************************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samar-samar, saya ingat telah belajar mata pelajaran PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) sejak mengenyam bangku pendidikan sekolah dasar (baca: SD). Ketika itu, ini merupakan salah satu mata pelajaran favorit saya (selain matematika ^-^) karena jawaban-jawabannya sangat mudah ditebak (terkait moral keseharian yang sederhana namun aplikasinya dipertanyakan – setidaknya untuk sekarang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin gambaran soalnya kira-kira seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sebaiknya kamu lakukan bila menemukan dompet di tengah jalan?&lt;br /&gt;a. Membiarkan saja&lt;br /&gt;b. Mengambil dan menjadikannya milikmu&lt;br /&gt;c. Membawa ke kantor polisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin seratus persen, opsi jawaban yang dibenarkan saat itu adalah C. Walaupun pada kenyataannya, saya akan lebih memilih mengecek terlebih dahulu identitas si pemilik dan bila memungkinkan menghubungi atau mengembalikan langsung…^.^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa tiba-tiba saya membahas topik ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saya merasa, nilai-nilai ideal yang ditanamkan sejak kecil entah kenapa sedikit demi sedikit mulai tergeser oleh berbagai “bumbu-bumbu” yang menjadikan hidup lebih kompleks. Salah satu contoh yang ingin saya angkat adalah masalah pengemis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu, saya (dan mungkin sebagian besar teman-teman juga) selalu diajarkan untuk berbagi kepada sesama. Dalam hal ini, maksudnya adalah kita membantu orang lain di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan di luar hal-hal yang sifatnya maksiat. Dengan pemikiran yang “lurus”, ini membuat saya menerjemahkan bahwa memberi sedekah pada pengemis menjadi hal yang dibenarkan, dan bahkan merupakan suatu keharusan bila kita memang mampu. Selama ada rezeki di kantong, tak ada salahnya untuk sekedar berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pemahaman ini entah kenapa jadi tergoyahkan dengan berbagai peraturan-peraturan yang timbul di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah pengemis dkk yang “beroperasi” secara liar di jalanan terus bertambah, dan hal ini dianggap sebagai suatu permasalahan yang harus disikapi secara tegas. Menjamurnya “komunitas jalanan” dikaitkan dengan lemahnya perekonomian, dimana banyak pengangguran justru menggantungkan mata pencaharian dari uluran tangan orang lain. Bahkan, beberapa di antara mereka tergabung dalam kelompok khusus (atau secara ekstrim diistilahkan sebagai “sindikat”) yang memang sengaja dibentuk untuk meraup peruntungan lebih. Mereka dengan sengaja meminjam bayi dan anak-anak untuk menemani mengais penghasilan, memancing rasa iba dan kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena itulah, pemerintah akhirnya mengeluarkan peraturan yang melarang pemberian uang bagi pengemis. Setidaknya, perda yang mengatur ini telah dikeluarkan dan diberlakukan di beberapa daerah. Tak tanggung-tanggung, denda yang akan dikenakan bila melanggar aturan ini mencapai nominal puluhan juta rupiah. (Ini sebatas yang saya ketahui, mohon maaf bila salah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit banyak, hal di atas membuat saya menjadi ragu untuk mengeluarkan sedekah (selain ke lembaga atau kegiatan sosial yang alokasinya cukup terpercaya). Di satu sisi, saya sedih bila tak bisa sedikit meringankan beban saudara-saudara di luar sana. Tapi di sisi lain, saya tak ingin bantuan itu justru menimbulkan adiksi dan membuat mereka bergantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang di sekitar saya pernah berkomentar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh! Jelas-jelas mereka masih muda dan sehat! Pasti mereka malas cari kerja! Maunya cari uang yang instan, sih…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Padahal mungkin orang di hadapannya itu telah sekian lama pontang-panting mencari alternatif namun tak kunjung memperoleh peluang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri tak berani berkomentar demikian. Lah wong saya masih tercatat sebagai anak sekolahan (baca: mahasiswa) yang bergantung dari cucuran dana orang tua untuk mencukupi segala kebutuhan hidup. Yah, masih menjadi peminta-minta juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm… okelah. Mungkin untuk mereka yang masih dalam usia produktif dan tampak bugar jiwa-raga, saya kurang respek bila mereka memilih jalur ini. Tapi bagaimana dengan anak-anak? Mereka dengan cacat fisik? Atau bahkan yang sudah berusia lanjut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya adik yang masih sangat kecil,Dan melihat anak-anak justru menjalani kehidupan di jalanan membuat saya sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Hei nak, kemana ibumu?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wahai ayah dan ibu, kemana kalian hingga membiarkan buah hati berkeliaran di jalan?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tinggal bersama eyang yang sudah berusia tujuh puluh tujuh tahun,&lt;br /&gt;Dan saya merasa miris melihat sosok-sosok renta masih menyusuri terik matahari dengan menengadahkan sebelah tangan ke arah kendaraan yang lalu lalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kemana kalian, wahai putra, putri, cucu, dan cicit?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Kemarin dilema kembali berkecamuk, saat tak sengaja ada seorang pengemis paruh-baya tuna netra duduk di depan restoran tempat saya akan membeli makanan. Saat kebingungan melanda (terlebih kantong sedang dalam kondisi minus), tiba-tiba sepasang suami-istri menghampiri si pengemis dan mengulurkan segelas minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang suami berbisik pelan sambil menyelipkan lembaran uang (yang saya tak bisa pastikan jumlahnya) ke tangan si pengemis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak pasti haus, ini ada sedikit minuman. Tak seberapa, tapi semoga bermanfaat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang istri yang tampak dalam kondisi hamil besar, tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya mereka berdua berusaha memberi teladan untuk berbuat baik pada orang lain, bahkan sebelum si bayi lahir ke dunia… ^-^ (love it!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, bila kita dihadapkan dengan pertanyaan seperti di bawah ini, opsi jawaban mana yang akan kita pilih:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA YANG AKAN KAMU LAKUKAN BILA MELIHAT SEORANG PENGEMIS?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pura-pura tidak melihat&lt;br /&gt;b. Memandang dengan sinis&lt;br /&gt;c. Menggerakkan tangan sebagai isyarat penolakan halus&lt;br /&gt;d. Mengomel&lt;br /&gt;e. Memberi sedekah&lt;br /&gt;f. …………………. (isi sendiri dengan jawaban ala dirimu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menentukan!&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-1500797575060754441?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/1500797575060754441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=1500797575060754441' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/1500797575060754441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/1500797575060754441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2009/08/what-will-you-do-if-you-see-beggar.html' title='What Will You Do If You See A Beggar?'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/SywvkQVdYEI/AAAAAAAAABo/Ij01qkQkYXs/s72-c/Beggar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-3145113207905550816</id><published>2009-07-03T12:58:00.000-07:00</published><updated>2009-07-03T13:45:15.658-07:00</updated><title type='text'>Va' dove ti porta il cuore</title><content type='html'>&lt;em&gt;Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;janganlah memilihnya dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkanlah hatimu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dan pergilah ke mana hati membawamu...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(Susanna Tamaro)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kutipan di atas saya ambil dari sebuah novel karya Susanna Tamaro, seorang penulis Italia, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Va' dove ti porta il cuore" atau "Pergilah ke Mana Hati Membawamu". Saya masih ingat dengan baik kapan dan dimana saya membeli buku itu, sekitar setahun yang lalu. Buku ini tidak saya pilih secara spontan, melainkan berdasarkan rekomendasi seorang sahabat (thanks to Dina) yang sudah lebih dulu "mencicipi". Dan ternyata, isinya agak membuat saya merefleksikan diri ke dalam tokoh-tokoh di buku itu, dimana peranan utama dipegang oleh sang nenek yang menjadi penulis (Fyi, penuturan di novel ini menggunakan pola "catatan harian") mengingatkan saya pada eyang saya (love her so much!).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi dari kesemuanya, petikan kalimat-kalimat bercetak miring di atas merupakan bagian favorit saya. Dan senangnya, bagian itu tertera di cover belakang buku, jadi saya tak perlu bersusah-susah mencari halaman di dalam buku bila ingin membacanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;"Pergilah ke Mana Hati Membawamu"...&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kedengarannya mudah. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi realisasinya tidak sesimpel itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimana bila kita sendiri tidak cukup memahami diri kita untuk tahu kemana sebenarnya hati ingin melangkah?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saya percaya, setiap orang pasti pernah mengalami fase dimana begitu banyak (atau mungkin kita cukup katakan lebih dari satu) pilihan terbentang di depan mata. Masing-masing dengan kelebihan dan konsekuensi tersendiri. Dan saya termasuk orang yang seringkali terjebak di persimpangan dalam kebingungan. Begitu banyak hal yang menjadi pertimbangan, karena bagi saya, keputusan yang diambil dalam sepersekian detik bisa sangat mempengaruhi jalan hidup seseorang ke depannya, secara signifikan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jika dilema ini menjadi berkepanjangan, ada satu tempat bernaung yang menjadi tempat bergantung. Allah - Sang Khalik, Sang Pemilik Semesta. Semua persoalan, semua pilihan, semua kesempatan, semua kemudahan... datang dari-Nya. Ketika ragu, Ia akan memberi jalan untuk mengukuhkan. Dengan cara-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi tetap, kita-lah pion-pion yang bergerak melangkah. Pada akhirnya, kita pun harus bisa memilah, mana hal-hal yang memang baik, dan mana hal yang sekedar "tampak baik" untuk kita saat ini. Bahkan saat kita memilih sesuatu yang sebenarnya sudah paling sesuai bukan berarti selanjutnya akan berjalan mudah. Akan selalu ada kerikil-kerikil untuk menguji seberapa kuat niat dan ikhtiar kita. Walau terasa berat, jika kita menguatkan hati, insya Allah semuanya bisa berhasil dihadapi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;..................................&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;(dini hari, catatan kecil kala insomnia setelah tidur panjang, saat kegalauan masih sedikit menyelimuti)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-3145113207905550816?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/3145113207905550816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=3145113207905550816' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/3145113207905550816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/3145113207905550816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2009/07/va-dove-ti-porta-il-cuore.html' title='Va&apos; dove ti porta il cuore'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-6435357018904727007</id><published>2009-05-23T23:29:00.000-07:00</published><updated>2010-05-09T06:42:12.649-07:00</updated><title type='text'>Bermimpi Untuk Bertualang?</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;"... Petualangan adalah candu. Sekali kau mulai, bahkan dirimu sendiri tak bisa menghentikan hasrat bertualangmu. Jika kamu membenci kegelisahan dan menyukai hidup yang tenang, jangan pernah memulai petualanganmu karena petualangan adalah sarang kegelisahan yang sengaja kau cari.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;Petualangan bukanlah sekadar pergi dari satu tempat ke tempat lain, mengunjungi tempat-tempat jauh dan menyaksikan hal-hal baru. Petualangan bukan sekadar mengajak derap langkahmu menuju tempat-tempat asing yang kau idamkan. Petualangan adalah pergi tanpa titik tujuan, membiarkan dirimu tersesat, mencari, dan memilih; dan kamu tak tahu kapan harus pulang.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;em&gt;Jangan bertualang. Cukupkan dirimu pada pelesir ke tempat-tempat indah yang belum pernah kau kunjungi, dan tetapkan sebelum pergi kapan kamu harus pulang..."&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;*************&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sejak dulu, saya merasa bahwa saya bukan tipe orang yang senang berpelesir atau sekedar bepergian ke tempat-tempat di luar rumah. &lt;em&gt;Well, I thought home is my best place&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kini, saat perjalanan waktu berhasil menyuguhkan gambaran-gambaran keindahan sekaligus ironi di berbagai belahan dunia - melalui potongan visual langsung maupun deskripsi imajinatif melalui kata dan melodi, saya menjadi sedikit tergelitik. Ya, keinginan untuk "melihat" dunia mulai tumbuh. Dan tanpa sadar saya mulai mengangankannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan sekarang, saya dihadapkan pada 2 pilihan yang sulit: mengambil kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat yang lama saya idamkan, atau menerima tawaran ke tempat yang sebenarnya tak begitu saya impikan, namun punya pesona tersendiri dengan kemudahan lebih daripada pilihan pertama. Menyisihkan waktu untuk berlibur telah menjadi dilema tersendiri, dan sekarang bertambah lagi hal yang harus dipertimbangkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi saya percaya, Allah selalu punya rencana yang terbaik. Beberapa waktu yang lalu, saya sempat dihadapkan pada persimpangan pilihan yang sulit, masing-masing memiliki konsekuensi yang cukup berat secara moril. Dan akhirnya, ada jalan ketiga yang muncul. Yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidak ada yang bisa menebak dengan pasti, apa yang akan terjadi esok. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Just let the things that should be happen, happened.&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-6435357018904727007?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/6435357018904727007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=6435357018904727007' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/6435357018904727007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/6435357018904727007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2009/05/blog-post.html' title='Bermimpi Untuk Bertualang?'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-8750086616332851258</id><published>2009-05-13T21:35:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T07:04:27.597-07:00</updated><title type='text'>Kisah Hujan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Ia menyukai hujan dengan segala keindahan alam yang terpancar dalam rinainya&lt;br /&gt;Ia menikmati sensasi sejuk yang terkadang menegakkan rambut halus di kuduknya&lt;br /&gt;Ia membaui aroma rintik gerimis hujan bagai wangi kesturi yang semerbak &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Setiap tetes yang membasahi tubuhnya dirasakan sebagai suatu anugrah tak ternilai&lt;br /&gt;Gemericik, genangan air yang terpercik langkah-langkah terdengar bagai alunan harmoni yang merdu di telinganya&lt;br /&gt;Saat payung aneka warna bergerak cantik dalam temaram kabut, ia melihatnya bagai pelangi yang masih bersembunyi malu di balik awan &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya,&lt;br /&gt;Ia mengagumi hujan&lt;br /&gt;Ia memuja hujan&lt;br /&gt;Ia mencintai hujan &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Karena hujan&lt;br /&gt;Membawa senyum&lt;br /&gt;Membuka tawa&lt;br /&gt;Menebar bahagia&lt;br /&gt;Memulas rona di wajahnya...&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-8750086616332851258?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/8750086616332851258/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=8750086616332851258' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/8750086616332851258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/8750086616332851258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2009/05/kisah-hujan.html' title='Kisah Hujan'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-8600298831481283772</id><published>2009-04-26T02:18:00.000-07:00</published><updated>2009-05-23T09:21:20.037-07:00</updated><title type='text'>Kasih Ibu</title><content type='html'>&lt;em&gt;Anakku,&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;bila esok kau terbangun dan aku tak tampak di sisimu, jangan takut.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Karena walau raga kita jauh, hatiku tetap menyertaimu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Anakku, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;bila kau lapar, aku telah menghidangkan sarapan di atas meja makan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sup hangat, yang mungkin telah menjadi dingin saat akan kau santap.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tapi percayalah padaku, kasihku.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kehangatan kasih seorang ibu akan senantiasa terjaga dan tak akan membeku ditelan waktu...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;A little note, dedicated to amazing women called "Mom"...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=(airaxa)=&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-8600298831481283772?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/8600298831481283772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=8600298831481283772' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/8600298831481283772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/8600298831481283772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2009/04/kasih-ibu.html' title='Kasih Ibu'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-3894289743860548053</id><published>2009-03-29T06:59:00.000-07:00</published><updated>2009-03-29T07:00:11.144-07:00</updated><title type='text'>Penat</title><content type='html'>Entah kenapa, rasanya malam ini kepala saya terasa penat.&lt;br /&gt;Apakah ini akumulasi dari berbagai peristiwa yang datang bertubi-tubi, memaksa masuk ke dalam pikiran, dan perlahan menggerogoti tiap ruang yang ada di dalamnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saya hanya butuh pelarian.&lt;br /&gt;Bukan untuk bersandar, karena tidak ada sandaran yang lebih kokoh dari-Nya.&lt;br /&gt;Tapi tetap saja, fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang tidak hanya memiliki hubungan “vertikal” tetapi juga “horizontal”,  menjadikan saya cenderung butuh tempat lain untuk menuangkan segala kepenatan ini. Butuh ruang lebih untuk berekspresi dan berbagi. Dimana saya bisa menempatkan diri dalam interaksi yang sejajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin tidak jelas?&lt;br /&gt;Maaf, karena seperti inilah cara saya dalam bertutur.&lt;br /&gt;Tidak mengutarakan sesuatu secara eksplisit, dan memilih untuk bercerita dengan samar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang saya bingung dengan diri saya sendiri.&lt;br /&gt;Kebingungan yang membuat saya khawatir.&lt;br /&gt;Bahkan merasa takut.&lt;br /&gt;Ketika seseorang menarik opini akan sesuatu, seringkali unsur subyektivitas menjadi dominan di dalamnya. Tidak salah, tapi berbahaya jika melenakan.&lt;br /&gt;Ada kecemasan tersendiri ketika melihat orang lain menilai sesuatu sebagai hal negatif, sementara saya merasa tidak ada yang salah, bahkan semua tampak sangat baik di mata saya. Saya yang kurang peka, atau mereka yang terlalu berlebihan? Saya tidak cukup yakin untuk menjawabnya.&lt;br /&gt;Yang pasti, saya sangat menghargai nilai suatu usaha, sekecil apapun. Sulit bagi saya untuk menuntut orang lain mencapai standar yang begitu tinggi, sebelum saya bisa menjamin diri saya sendiri sanggup memenuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan hanya menyalahkan seseorang atas kekhilafan yang dilakukannya, tapi berusahalah untuk mengetahui apa yang menyebabkannya khilaf. Bila memang ini adalah perkara yang berat, sudahkah kita mengulurkan tangan untuk meringankan bebannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari satu topik, langsung melompat ke topik lainnya.&lt;br /&gt;Jelas, saraf di otak ini benar-benar sedang kusut.&lt;br /&gt;Butuh penyegaran!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-3894289743860548053?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/3894289743860548053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=3894289743860548053' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/3894289743860548053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/3894289743860548053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2009/03/penat.html' title='Penat'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-7021232414946389966</id><published>2009-03-10T03:40:00.000-07:00</published><updated>2009-03-10T03:45:00.388-07:00</updated><title type='text'>Sebuah Renungan</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Ketika kamu lelah dan berhenti, maka lihatlah sekelilingmu.&lt;br /&gt;Betapa peluh yang mengalir tak hanya berupa butiran, melainkan telah membanjiri seluruh tubuh mereka.&lt;br /&gt;Jika kamu berkaca, apa yang kamu dapati? &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Sosok yang tampak begitu segar, begitu bugar bila dibandingkan dengan mereka.&lt;br /&gt;Maka, hapus asa-mu, dan segeralah bergegas.&lt;br /&gt;Ragamu, jiwamu, semangatmu, telah lama dinanti untuk kembali…&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-7021232414946389966?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/7021232414946389966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=7021232414946389966' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/7021232414946389966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/7021232414946389966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2009/03/sebuah-renungan.html' title='Sebuah Renungan'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-8662178337515964269</id><published>2009-03-10T03:11:00.000-07:00</published><updated>2009-03-10T03:37:59.998-07:00</updated><title type='text'>Teruntuk Sahabat... Ketika Cinta Membawa Kepedihan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Manusia bisa patah hati sebanyak ia mencintai&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Namun sejatinya hanya satu pelabuhan cinta yang abadi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dia yang menjadikan kita dari ketiadaan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yang mengisi kehampaan hati dengan kebahagiaan...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(airaxa)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;**********&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;MENCINTAI...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;BUKANlah bagaimana kamu melupakan..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;BUKANlah bagaimana kamu mendengarkan..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;melainkan bagaimana kamu MENGERTI...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;BUKANlah apa yang kamu lihat..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;melainkan apa yang kamu RASAKAN...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;BUKANlah bagaimana kamu melepaskan..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;melainkan bagaimana kamu BERTAHAN...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Lebih bahaya mencucurkan air mata dalam hati&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;dibandingkan menangis tersedu-sedu...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Air mata yang keluar dapat dihapus&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;sementara air mata yang tersembunyi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Akan tiba saatnya &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;MELAINKAN karena kita menyadari &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;bahwa orang itu akan lebih berbahagia&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;apabila kita melepaskannya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Apabila kamu benar-benar mencintai seseorang,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;jangan lepaskan dia...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;jangan percaya bahwa melepaskan SELALU berarti kamu benar-benar mencintai&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;melainkan... BERJUANGLAH demi cintamu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Itulah CINTA SEJATI&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;DARIPADA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;berjalan bersama orang 'yang tersedia'&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;DARIPADA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;orang yang berada di sekelilingmu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;Lebih baik menunggu seseorang yang tepat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;span style="color:#993399;"&gt;karena hidup ini terlalu singkat untuk dibuang hanya dengan 'seseorang'&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#006600;"&gt;(Kahlil Gibran)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-8662178337515964269?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/8662178337515964269/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=8662178337515964269' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/8662178337515964269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/8662178337515964269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2009/03/teruntuk-sahabat-ketika-cinta-membawa.html' title='Teruntuk Sahabat... Ketika Cinta Membawa Kepedihan'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-5528117494941744023</id><published>2009-01-08T05:32:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T05:47:07.259-08:00</updated><title type='text'>Selintas Dalam Benak</title><content type='html'>&lt;em&gt;Lagi, airmata keluar dari persembunyiannya. Kali ini bukan karena egoisme pribadi semata. Semoga...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;**************&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kini, hampir seluruh dunia menyoroti kemelut yang terjadi di Timur Tengah, antara Israel dan Palestina. Mengkritik, menghujat, bahkan menghakimi. Berlomba-lomba beropini, walau tak sedikit yang beraksi. Saya tak mengelak, mengakui bahwa pernah terlibat dalam diskusi - atau sekedar perbincangan singkat - mengenai hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terang saya mengecam. Peperangan dan berbagai bentuk kekerasan lainnya adalah manifestasi keburukan pola pikir manusia yang penuh keterbatasan. Sepakat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan saja, betapa ironisnya bila kita bergerilya dalam keseharian, terus menerus diliputi kecemasan dan dikejar ketakutan. Setiap kali suara menggelegar terdengar, seakan jam waktu kita akan semakin melambat. Dan ia dapat berhenti berdetak kapan pun. Tanpa bisa kita tolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak peduli lagi mengenai siapa yang memulai, tapi saya akan SANGAT menghargai siapapun yang dapat mengakhiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan hanya perkara menang atau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang masih punya hati nurani, seharusnya bisa memahami. Dan saya berharap tak hanya seorang, melainkan setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Kepada mereka yang hanya bisa dijumpai dari balik layar kaca, yang diliputi durja dalam wajahnya, semoga mentari segera mengikis kegelapan yang pekat ini. Amien.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-5528117494941744023?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/5528117494941744023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=5528117494941744023' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/5528117494941744023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/5528117494941744023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2009/01/selintas-dalam-benak.html' title='Selintas Dalam Benak'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-9086331786640185254</id><published>2009-01-01T08:56:00.000-08:00</published><updated>2009-01-01T09:20:55.866-08:00</updated><title type='text'>Ketika Tahun Berganti, Apa yang Bersiap Menanti?</title><content type='html'>Dunia sedang ber-euforia menyambut kedatangan tahun baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Januari kembali menyapa di lembaran baru kalender Masehi, sementara penanggalan Hijriyah telah lebih cepat mendahului.&lt;br /&gt;Di satu sisi, perayaan besar-besaran diselenggarakan untuk menyambutnya. Di sisi lain, sebagian penduduk di berbagai belahan dunia tengah kompak serempak mengutuki segala bentuk kekerasan dan kekacauan yang memporakporandakan sebuah negeri di kawasan Timur Tengah. Belum lagi insiden-insiden yang terjadi di beberapa tempat di malam pergantian tahun, yang secara tragis merenggut tak sedikit nyawa, di saat orang-orang tengah menikmati hiruk-pikuk di pesta hura-hura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergantian tahun hendaknya dimaknai dengan suatu kearifan.&lt;br /&gt;Saatnya kita berkaca selama setahun ke belakang, bagaimana bentuk jalur yang telah lalui.&lt;br /&gt;Apakakah kita telah meninggalkan jejak emas? Atau justru menorehkan goresan kasar dan mengotori pijakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan saya pun malu rasanya bila kembali menoleh ke belakang.&lt;br /&gt;Tapi inilah yang harus menjadi motivasi bagi kita untuk menatap ke depan.&lt;br /&gt;Kita pantas bersyukur, bisa kembali mengawali episode tahunan kita.&lt;br /&gt;Saat mungkin ada "mereka" yang tidak mampu mereguk nikmat ini. Ya, bahkan "mereka" tidak peduli hari apa kini. Bukan tidak mau, tapi kondisi yang membuat jadi tidak mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari, kita bersiap untuk berbuat "lebih" tahun ini.&lt;br /&gt;Bukan hanya sekedar resolusi, tapi harus terwujud konkrit dalam kontribusi.&lt;br /&gt;Apapun itu, dimanapun kita berada, saya percaya - setiap orang memiliki "lahan"-nya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga, tak hanya sekedar menjadi angan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-9086331786640185254?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/9086331786640185254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=9086331786640185254' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/9086331786640185254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/9086331786640185254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2009/01/ketika-tahun-berganti-apa-yang-bersiap.html' title='Ketika Tahun Berganti, Apa yang Bersiap Menanti?'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-1125233370762160388</id><published>2008-10-14T06:45:00.000-07:00</published><updated>2009-03-16T08:37:04.525-07:00</updated><title type='text'>Catatan Hari ini</title><content type='html'>Berhari-hari - bahkan mungkin berminggu-minggu belakangan - saya seperti melayang sangat tinggi hingga dapat menyentuh awan. Banyak peristiwa yang terjadi, khususnya selama masa liburan hingga kembali ke bangku kuliah, yang membuat saya merasa sangat bahagia dan lepas dari segala himpitan permasalahan yang bagai tak pernah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi memang, saat seseorang merasa tengah dalam puncak kenyamanan, cobaan seringkali datang untuk menguji keteguhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar bahwa saya adalah seorang yang sangat sensitif - bahkan sebuah tes kepribadian yang pernah saya ikuti saat SMA menunjukkan hasil bahwa saya adalah seorang yang "melankolis". Beberapa orang terdekat saya sudah sangat maklum dengan hal ini, dan ini sangat saya syukuri. Karena itu, saya sempat merasa bagai "pemenang" saat mendapati diri saya berhasil melewati fase tanpa "hujan airmata" selama beberapa waktu. Sudah sangat lama saya berusaha meninggalkan predikat "cengeng" yang pernah melekat erat pada diri saya, namun tak kunjung berhasil. Bagi saya, adalah suatu langkah besar bila berhasil untuk tidak menumpahkan emosi dan tangis untuk hal-hal yang sebenarnya remeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi akhirnya, benteng pertahanan itu runtuh juga. Setelah sekian lama, akhirnya airmata itu harus menetes lagi. Meledak lebih tepatnya. Saya tidak tahu pasti, apa memang hal itu adalah sesuatu yang pantas untuk ditangisi. Kekecewaan bercampur emosi membuncah di dada ini. Sesak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika diri kita telah diliputi emosi, semua terasa buram. Gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batin saya seketika tertawa... apa ini tanda kekalahan? Apa ini balasan karena saya terlalu congkak? Atau mungkin terlalu lalai? Ya, mungkin ini sebuah peringatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat sahabat-sahabat, rekan-rekan, dan keluarga luar biasa yang selalu mendampingi, saya mulai mengumpulkan kesadaran dan menjernihkan kembali air yang terlanjur keruh. Langkah paling mujarab: kembali berserah pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba untuk merangkum semua masukan yang ada (dengan sedikit penyesuaian bahasa tulisan):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum tentu sesuatu yang kita sukai adalah yang terbaik untuk kita. Jadi, jangan bersedih, dan coba lihat apa hal terbaik yang bersiap menanti di depan sana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita tidak pernah bisa menerka rahasia Allah. Yang bisa kita lakukan hanya menjalankan hidup ini dengan sebaik-baiknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, I tried to wipe my tears, and moved on...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ternyata, bersama kesulitan ada kemudahan. Seperti mendapat pencerahan, saya mendapati sebuah kenyataan baru bahwa sesungguhnya saya tidak perlu menangisi hal yang sudah saya tangisi. Wah.. rasanya benar-benar lega! Ya, akhirnya satu ujian terlewati...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;===catatan luapan perasaan seorang anak dengan sindrom hiperbolis===&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-1125233370762160388?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/1125233370762160388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=1125233370762160388' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/1125233370762160388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/1125233370762160388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/10/catatan-hari-ini.html' title='Catatan Hari ini'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-3278944374573398409</id><published>2008-10-03T08:22:00.000-07:00</published><updated>2008-10-03T09:48:48.573-07:00</updated><title type='text'>Kura-Kura yang Bermimpi Menjadi Kupu-Kupu</title><content type='html'>Dalam sebuah buletin kampus ringan yang pernah saya baca dan dari celetukan-celetukan ringan khas percakapan antar-teman, saya mendapati penggolongan unik yang membagi mahasiswa menjadi 3 tipe: kupu-kupu, kunang-kunang, dan kura-kura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kupu-kupu" alias "kuliah pulang - kuliah pulang" mewakili gambaran mahasiswa yang langsung angkat kaki dari kampus setelah jam kuliah berakhir, terus terbang melesat kembali ke rumah. Ada banyak alasan yang mendasari - umumnya mereka ini berdomisili jauh dari kampus atau pelajar rumahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan "kunang-kunang" alis si "kuliah nangkring - kuliah nangkring" yang mudah dijumpai di pelbagai tempat, dalam pelbagai aksi dan posisi, yang pasti di luar rumah. Terwujud dalam kemasan mahasiswa-mahasiswa pecinta hiburan (baca: bukan dalam konotasi negatif) yang menikmati hidup tanpa beban. 'Hidup ini sudah sulit, jadi tak perlu dibuat rumit' - mungkin itu kalimat yang dapat dijadikan representasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang terakhir, golongan ketiga yakni si "kura-kura" alias "kuliah rapat - kuliah rapat" terdiri dari mereka yang aktivis dan organisatoris. Dari yang optimis, idealis, hingga agamis bercampur dalam berbagai kegiatan yang mengusung banyak kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kura-kura dan kupu-kupu yang saya maksudkan dalam judul tulisan ini bukanlah itu. Perumpamaannya dalam sesuatu yang berbeda. Kura-kura yang saya maksudkan di sini adalah gambaran pribadi seseorang yang cenderung lamban dalam bergerak dan merespon. Saya tidak memungkiri bahwa seseorang itu mungkin saja saya - tapi saya juga tidak mengiyakan bahwa itu memang saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, seekor kura-kura dalam tempurungnya terbangun dari tidur karena terusik hentakan kaki dari kanguru yang berlompatan dengan lincah. Ia merasa tidak nyaman, dan bergerak perlahan mencari tempat yang lebih tenang. Namun karena lamban, ia selalu kalah bersaing meraih tempat dengan hewan-hewan lainnya yang juga mencari posisi nyaman untuk bersantai. Beberapa di antara mereka bahkan mencibir dan mengolok-olok kelambanan si kura-kura. Dalam hati,  kura-kura meringis pedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menengadahkan kepalanya ke atas, mendapati kawanan burung beterbangan ke arah selatan. Seekor kupu-kupu tampak terbang mengikuti dari ketinggian yang lebih rendah. Kupu-kupu cantik itu melesat dengan anggun, dan mendarat dengan mulus di ujung kuncup bunga yang mulai merekah. Kura-kura tanpa sadar terus mengikuti setiap gerakan halus dari si kupu-kupu dengan tatapan iri. Ya, ia bermimpi menjadi seekor kupu-kupu, yang tampak begitu cantik dan memesona di matanya. Namun dengan sedih, ia segera menepis angan mustahil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari demi hari pun berlalu. Musim telah berganti. Dan kura-kura dikejutkan oleh sebuah kabar duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupu-kupu cantik telah meninggalkan dunia fana ini untuk selamanya. Dalam usia yang begitu singkat, dalam wujud yang tak serupawan dulu. Ia tergeletak rapuh, kondisinya begitu menyedihkan. Kura-kura begitu terpukul. Ia tak pernah menyadari sebelumnya, bahwa segala kelebihan duniawi tak bersifat abadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa perjalanan waktu seringkali membawa kita menyadari bahwa kita ada di titik yang berseberangan memang benar adanya. Kupu-kupu memang cantik, tapi sebenarnya ia begitu ringkih dan rentan terhadap segala gangguan. Ia begitu bebas dan tak terikat - dan ini justru mudah membuatnya terombang-ambing dalam angin kencang. Sebaliknya, kura-kura yang lamban punya banyak waktu untuk berlindung dalam tempurung yang dengan setia selalu dibawanya walau memberatkan fisiknya dan membuat gerakannya melambat. Ia mendapatkan keamanan, justru dari keterikatannya dengan 'rumah' itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pikirnya, kura-kura telah memantapkan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak lagi bermimpi menjadi seekor kupu-kupu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-3278944374573398409?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/3278944374573398409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=3278944374573398409' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/3278944374573398409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/3278944374573398409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/10/kura-kura-yang-bermimpi-menjadi-kupu.html' title='Kura-Kura yang Bermimpi Menjadi Kupu-Kupu'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-6695036829517027693</id><published>2008-08-01T06:36:00.000-07:00</published><updated>2009-03-16T08:31:00.523-07:00</updated><title type='text'>Tawa dan Airmata</title><content type='html'>Saya sering bertanya-tanya pada diri sendiri: kenapa tawa dan airmata seringkali datang beriringan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah, dalam sehari, seseorang mendapati dirinya diliputi kebahagiaan luar biasa yang membuatnya tersenyum sepanjang hari, kemudian tiba-tiba dengan mudahnya sebuah perkara membuat ia meledakkan tangis berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, emosi dalam diri seseorang bekerja dengan sangat baik dalam merespon segala rangsangan suasana, bahkan pada perubahan kondisi yang sangat bertolak belakang. Sistem ini terus berjalan dalam tubuh kita, tanpa kita sadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kenapa malah membahas hal ini, ya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-6695036829517027693?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/6695036829517027693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=6695036829517027693' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/6695036829517027693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/6695036829517027693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/08/tawa-dan-airmata.html' title='Tawa dan Airmata'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-5269214155957512656</id><published>2008-07-29T03:15:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T03:49:13.098-07:00</updated><title type='text'>Sibuk?</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Yang penting bukanlah seberapa sibuk diri anda, melainkan untuk apa anda sibuk."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;*****&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali, saya dikejutkan oleh sapaan dari salah seorang teman.&lt;br /&gt;"Sibuk amat sih, mbak. Tiap hari ke kampus mulu. Padahal lagi libur gini,"komentarnya. Dan ia bukan orang pertama yang berpendapat seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menanggapi dengan tersenyum, dan berusaha menepis anggapannya secara halus. Sungguh, tanpa maksud sok merendah. Di sekitar saya masih jauh lebih banyak orang yang disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang luar biasa (menurut pandangan saya), membuat hal-hal yang tengah atau telah saya lakukan tampak tidak ada apa-apanya. Mereka-mereka inilah yang selalu membuat saya terkagum-kagum, seperti tidak pernah kehabisan energi untuk beraktivitas. Tentunya, kegiatan yang mereka lakukan bersifat positif, tidak sekedar hura-hura dan menghambur-hamburkan uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah darimana datangnya semangat sebesar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, saya senang terlibat dalam berbagai acara, bahkan hampir semua seksi di kepanitiaan pernah saya rasakan. Tapi, semuanya terbatas pada lingkup yang kecil. Kalaupun berskala besar, biasanya peran saya tak lebih dari anggota seksi yang hanya menunggu aba-aba dari si penanggung jawab. Semuanya nyaris tanpa beban berarti. Jika kemudian saya tampak seakan sibuk mengurus ini itu, kenyataan sungguh tak seberat yang terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan mengeluhkan keadaan saya saat ini. Sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja hal ini muncul di benak saya saat menatap layar monitor, dan dengan lancar semuanya mengalir keluar bersama tombol-tombol keyboard yang diketik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin sekali saya mendapati diri saya bergabung bersama mereka yang terus berjuang untuk berkembang, sibuk karena mengejar sesuatu yang esensial. Tapi siapkah saya meninggalkan zona nyaman yang saya, menyambut sesuatu yang masih abstrak di luar sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pepatah yang mengatakan, &lt;em&gt;"manusia sebesar apa yang ia pikirkan". &lt;/em&gt;Mungkin ini benar adanya. Ketika seseorang meyakini bahwa ia bisa, bukan suatu kemustahilan ia bisa melakukan suatu hal. Namun, keyakinan ini sepertinya belum berakar dalam diri saya. Tidak untuk saat ini. Masih ada keraguan untuk meraih hal yang lebih besar. Saya masih senang disibukkan dengan hal-hal kecil, belum sanggup melepas kenyamanan itu untuk sesuatu yang lebih rumit, lebih sulit, sekaligus lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan mencoba untuk melangkah perlahan. Ya, lambat tapi pasti. Bukankah lebih baik dari tak bergeming?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-5269214155957512656?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/5269214155957512656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=5269214155957512656' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/5269214155957512656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/5269214155957512656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/sibuk.html' title='Sibuk?'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-3567182568654981985</id><published>2008-07-27T08:58:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T08:59:58.053-07:00</updated><title type='text'>Iri</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Tak jarang, rasa iri tak sekedar menghampiri. Ia menyelimuti, merasuki, dan menjalar ke relung hati. Menuai luka, menodai kebeningan sukma insani. Laksana simfoni yang mengalun getir di sela keheningan sunyi."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang pasti pernah dihinggapi perasaan iri dalam kalbunya. Ada saat dimana pepatah "rumput tetangga terlihat lebih hijau daripada rumput di halaman rumah sendiri" sejalan dengan pikiran kita ketika melihat apa yang dimiliki oleh orang lain. Suatu waktu, saya mendapati diri saya terperangkap dalam paradigma "ketidakmampuan". Melihat orang lain bersinar dalam karya, saya justru tidak kuasa menangkis kilaunya yang menusuk mata. Ketika orang lain tampil dengan potensinya yang luar biasa, saya hanya berdecak kagum. Dengan rasa iri diam-diam muncul di benak saya, bersama-sama dengan "sahabat karib"-nya, rasa rendah diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, kita sering diajarkan bahwa rasa "iri" bukanlah hal yang baik untuk dipelihara. Tapi entah bagaimana, ia dapat dengan mudah datang menghantui, terutama saat orang-orang di sekeliling kita seakan berada di atas awan. Ia menjadi sesuatu yang dimaklumi, sesuatu yang manusiawi. Tidak ada batas pasti yang dapat ditentukan untuk sejauh mana ia dapat terus melekat, dan dimana ia harus lekas ditepis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi terombang-ambing dalam perasaan gamang, biasanya saya teringat sebuah kalimat pamungkas bagi sebagian orang: &lt;em&gt;"Saat kau merasa menjadi yang paling lemah, lihatlah ke bawah; namun saat kau merasa menjadi yang terhebat, lihatlah ke atas."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tidak mungkin, ada hal-hal di diri kita yang juga menimbulkan rasa iri bagi orang lain. Saat kita merasa lebih "rendah" dari seseorang, bisa jadi seseorang yang lain memposisikan diri kita lebih "tinggi" dari dirinya. Karena itu, kita perlu bersyukur atas apa yang selama ini telah kita miliki. Walaupun demikian, kita perlu memandang ke "atas", agar kita tidak berjalan di tempat. Ia ada sebagai motivasi, memacu kita untuk berusaha menjadi lebih baik, bukan sekedar pajangan yang dipamerkan untuk menimbulkan kecemburuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara memang mudah, dan menulis memang tidak sulit. Tapi mengapa susah sekali untuk dijalankan, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... diunduh dari &lt;a href="http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-3567182568654981985?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/3567182568654981985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=3567182568654981985' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/3567182568654981985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/3567182568654981985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/iri.html' title='Iri'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-3829299715051136796</id><published>2008-07-27T08:56:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T08:58:17.238-07:00</updated><title type='text'>Entah...</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Aku lelah bertarung dengan kepenatan ini&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;aku lelah hadapi padat dunia ini&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;aku ingin kesunyian&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;aku rindu ketenangan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;biarkan kunikmati kebebasan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;biarkan kureguk kebahagiaan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kuimpikan sebuah kedamaian&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;sungguh, yang kumau hanya itu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;tidakkah kau mempercayaiku?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;andai ku bisa meyakinkanmu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;kumohon, beri aku satu waktu"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Terlalu muluk-kah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... diunduh dari &lt;a href="http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-3829299715051136796?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/3829299715051136796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=3829299715051136796' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/3829299715051136796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/3829299715051136796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/entah.html' title='Entah...'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-2081323728504531388</id><published>2008-07-27T08:53:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T08:56:22.143-07:00</updated><title type='text'>Celoteh Anak</title><content type='html'>Sepertinya judul di atas mengingatkan pada sebuah acara kuis yang pernah diputar di salah satu stasiun TV swasta di Indonesia, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, karena tulisan saya kali ini akan berkaitan dengan dunia anak - terinspirasi dari sebuah postingan di bulletin board berisi rentetan pertanyaan-pertanyaan lugu yang dikemukakan oleh bocah berusia 5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat daftar pertanyaan tersebut, tanpa sadar saya terpancing untuk tersenyum. Bukan tanpa alasan, melainkan karena beberapa pertanyaan yang dituliskan mungkin cukup akrab di telinga para orangtua atau teman-teman kita yang memiliki adik kecil. Saya sendiri sebenarnya tidak memiliki adik yang masih kecil - saudara kandung saya hanya seorang, dan usianya terpaut tak sampai 2 tahun di bawah usia saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber dari celotehan-celotehan polos khas anak-anak yang sering saya dengar adalah sepupu-sepupu saya yang masih tergolong balita. Satu yang paling menggemaskan adalah putra bungsu dari tante saya, yang biasa dipanggil Abi. Si Abi ini badannya tergolong kecil dan sama sekali tidak gemuk, berbeda sekali dengan kakaknya yang bertubuh tambun. Dengan postur tubuhnya yang mungil, ia dapat dengan leluasa bergerak ke sana kemari dengan lincah tanpa beban. Dia tidak segan-segan menantang orang untuk melawannya (gaya sok berantem ala anak kecil). Tak hanya itu, tingkat keusilan dan keisengannya juga tinggi. Ibu saya - yang memang cukup sering mampir ke rumahnya, seringkali kewalahan melihatnya "beraksi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali, ibu saya memergoki ulah kenakalan si cabe rawit yang satu ini, dan berusaha memperingatkannya. Karena kesal, (saya lupa kalimat pasti apa yang diucapkan oleh ibu saya yang membuatnya kesal), ia memasang mimik wajah dengan dahi berkerut dan berseru, "Heee... Buba! Abi potong lho pantatnya, bial ga bica kentut!!" *Kalimat ancamannya sama sekali tidak menakutkan, bahkan membuat saya dan ibu saya cekikikan untuk beberapa saat. Er.. sebenarnya, kalimat ini menunjukkan bahwa ia sudah dapat berpikir dengan sistematis, bahwa bila tidak ada "sesuatu", maka seseorang tidak dapat melakukan "perilaku tertentu". Masalahnya, kenapa yang dia ambil adalah logika buang angin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat sebuah percakapan melalui telepon sekitar pertengahan tahun lalu, yang dilakukan antara saya dan Abi sehari sebelum pelaksanaan UN. Saat itu, tante saya menelepon untuk memberikan semangat, berbicara bergantian dengan kedua anaknya. Hingga tibalah giliran Abi untuk bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abi   : "Alow... mbak Iya, ya?"&lt;br /&gt;Saya : "Iya, Abi..."Abi   : "Celamat ujian ya..."&lt;br /&gt;Saya : "Wah, terima kasih ya..."&lt;br /&gt;Abi   : "Cemoga behacil..."&lt;br /&gt;Saya : "Iya, iya, terima kasih ya, Abi..."&lt;br /&gt;Abi   : "Celamat ulang taun..."&lt;br /&gt;Saya : "Lho??"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya, ia mengira semua ucapan "selamat" ini bermakna sama. Jadilah, ucapan selamat ujian kali itu diiringi dengan ucapan selamat ulang tahun. Yah, namanya juga anak-anak... ^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&gt;&gt;Terjemahan:* Heee... Bunda! Abi potong lho pantatnya, biar ga bisa kentut!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;============================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Manusia memang tidak pernah tahu skenario kehidupan seperti apa yang menanti di babak berikutnya. Karena itu, lakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan. Kepada dua orang teman yang baru saja kehilangan, tetap sabar dan semangat! Insya Allah, doa tulus dari kalian bisa sampai untuk orangtua terkasih "di sana"...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... diunduh dari &lt;a href="http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-2081323728504531388?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/2081323728504531388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=2081323728504531388' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/2081323728504531388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/2081323728504531388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/celoteh-anak.html' title='Celoteh Anak'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-5662557183172986032</id><published>2008-07-27T08:52:00.000-07:00</published><updated>2008-07-29T02:57:31.328-07:00</updated><title type='text'>Di Balik Musical 2008</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;=============== &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/SI7mxI8XISI/AAAAAAAAAAw/EejNrNAiylY/s1600-h/DSC00769.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228369949312360738" style="WIDTH: 169px; CURSOR: hand; HEIGHT: 120px" height="165" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/SI7mxI8XISI/AAAAAAAAAAw/EejNrNAiylY/s200/DSC00769.JPG" width="222" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; ===============&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;&lt;&lt;strong&gt;Meet Us in Sex Education at Lapas&lt;/strong&gt;&gt;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/SI7gMns_3oI/AAAAAAAAAAY/uNmBsmoHlzU/s1600-h/DSC00768.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5228362724844494466" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/SI7gMns_3oI/AAAAAAAAAAY/uNmBsmoHlzU/s320/DSC00768.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa orang rekan sekampus mendapat kesempatan yang cukup langka (menurut saya, karena hal ini tidak pernah saya bayangkan sebelumnya), yakni berkunjung ke sebuah Rumah Tahanan di bilangan Pondok Bambu. Kami -atas nama departemen Pengabdian Masyarakat- bermaksud mengadakan semacam acara penyuluhan kesehatan (dengan tema saat itu kesehatan reproduksi) di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pertama kali datang ke sana untuk mengurus perizinan, yang terbayang di pikiran saya adalah sebuah tempat yang gelap, suram, dan terdiri dari bilik-bilik sel yang berjejer. Apalagi, saat kami sampai, kami langsung "disambut" dengan sebuah gerbang/tembok pembatas yang tinggi. Hanya ada semacam loket kecil yang berfungsi sebagai tempat penghubung dengan "dunia luar". Karena ada sedikit kesalahan, kami tidak berhasil masuk kali itu. Hal ini menambah keyakinan saya, bahwa yang tersembunyi di balik sana pastilah sesuatu yang "istimewa". Jika banyak orang yang mengatakan keluar dari penjara itu sulit, saya akan mengatakan untuk "sekedar masuk"-nya pun tidak mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saya tidak terlibat dalam seksi yang mengurus perizinan secara langsung, akhirnya saya tidak ikut pada survei berikutnya. Baru pada H-1 pelaksanaan acara, saya berkesempatan untuk turut serta dalam persiapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk dapat masuk ke dalam, saya dan teman-teman harus meninggalkan kartu identitas sebagai jaminan, dan sebagai gantinya kami mendapat "kartu tamu" sebagai penanda. Tak lupa, seorang penjaga telah bersiap dan men-cap tangan kami dengan cap khusus. Sekilas, kami teringat dengan cap yang diberikan untuk masuk ke Dufan dan tempat rekreasi sejenis. Rasanya seperti akan memasuki sebuah wahana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika gerbang kedua dibuka, alangkah terkejutnya saya mendapati suasana Rutan yang tidak terduga. Rutan ini lebih seperti sebuah asrama sekolah daripada lingkungan penjara dalam benak saya. Beberapa orang penghuni bahkan tampak tengah berolahraga dengan semangat. Mereka tampak cukup sehat dan terawat. Tidak ada kesan "wajah-wajah bengis dan mengancam". Mungkin karena penghuninya terdiri dari anak-anak, remaja, dan wanita, jadi kesan yang didapat seperti itu. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tiba-tiba saya tersadar. Walau bagaimanapun, para penghuni Rutan ini pada dasarnya sama seperti kita. Mereka hanya manusia biasa, yang sewaktu-waktu dapat khilaf dan melakukan kesalahan. Dan sayangnya kesalahan yang mereka lakukan ini terbilang cukup fatal, sehingga mengharuskan mereka tidak dapat menghirup udara kebebasan di luar sana untuk sementara waktu sebagai akibatnya. Tak ada yang benar-benar tahu, apa alasan yang mendasari itu terjadi. Bisa jadi, ada sebuah keterpaksaan yang mendalanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tidak mau, saya jadi setengah geli mengingat bahwa saya pernah membayangkan suasana penjara yang seperti di film-film action, dimana jelas terdapat karakter "putih" dan "hitam". Menurut saya, pada kenyataannya, tidak ada batas yang jelas antara keduanya. Yang ada adalah zona "abu-abu". Saya yakin, tidak ada orang yang benar-benar "jahat". Pasti, walau hanya setitik, ia masih punya hati nurani. Jika tidak, yah mungkin dia memang agak "lain" - penderita gangguan kejiwaan, mungkin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, dunia ini memang dipenuhi hal-hal yang unik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... diunduh dari &lt;a href="http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-5662557183172986032?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/5662557183172986032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=5662557183172986032' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/5662557183172986032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/5662557183172986032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/di-balik-musical-2008.html' title='Di Balik Musical 2008'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_fi2gvPoVuqY/SI7mxI8XISI/AAAAAAAAAAw/EejNrNAiylY/s72-c/DSC00769.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-4789493770766851084</id><published>2008-07-27T08:51:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T07:13:38.209-07:00</updated><title type='text'>Dalam Khayalan</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Mungkin aku hanya me-reka&lt;br /&gt;sebab ia adalah maya&lt;br /&gt;pun saat ku ditelan asa&lt;br /&gt;ia takkan menjadi nyata"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...pada sebuah perjalanan di tengah hiruk-pikuk manusia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... diunduh dari &lt;a href="http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-4789493770766851084?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/4789493770766851084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=4789493770766851084' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/4789493770766851084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/4789493770766851084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/dalam-khayalan.html' title='Dalam Khayalan'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-3616530509548497319</id><published>2008-07-27T08:49:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T08:51:13.982-07:00</updated><title type='text'>Di Sela Derai Airmata</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Ia telah berjanji untuk berubah.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bukan padaku, padamu, atau pun mereka.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Itu janji terhadap dirinya sendiri.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yang akan terus diperjuangkan hingga tenaganya tak tersisa.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nyatanya, ia tetap mengingkari.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bukan kesengajaan, melainkan ketidakberdayaaan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apakah ia memang terlalu lemah?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Atau janji itu memang melampaui batas kemampuannya?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ah, andaikan ada yang dapat menjawab tanya ini untuknya."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..... pada sebuah malam, antara sebuah perenungan dan alam bawah sadar.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;... diunduh dari &lt;a href="http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-3616530509548497319?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/3616530509548497319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=3616530509548497319' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/3616530509548497319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/3616530509548497319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/di-sela-derai-airmata.html' title='Di Sela Derai Airmata'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-413416904745797058</id><published>2008-07-27T08:46:00.000-07:00</published><updated>2009-05-16T07:18:12.778-07:00</updated><title type='text'>The Opened Door</title><content type='html'>&lt;em&gt;"Ketika kau yakin, pintu itu akan terbuka. Namun bila kebimbangan menyelimutimu, kunci itu tak akan pernah menemukan kombinasi yang sesuai. Maka, yakinlah, dan rahasia di baliknya akan menyambutmu."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang sahabat saya baru saja mendapatkan kabar bahagia (yang tentunya membuatnya tak henti bersyukur dan menyunggingkan senyum kepuasan) yang turut membuat saya terhanyut suasana kegembiraan. Setelah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, akhirnya perjuangannya selama ini terbayarkan. Berkali-kali kegagalan terus membayanginya (beberapa waktu sempat membuatnya nyaris putus asa) namun akhirnya ia terus maju dan berhasil memetik buah kemenangannya. Ah, tentu buah yang ranum itu akan terasa manis sekali di lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih mengingat dengan jelas, masa-masa ketika kami saling menyemangati satu sama lain ketika yang lain tengah dirundung masalah. Saat itu, ada sebuah pepatah yang dipegang oleh sahabat saya yang satu ini&lt;em&gt;:"When one door of happiness closes, another opens."&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Saya sependapat untuk hal yang satu ini,tapi dengan sedikit modifikasi ala saya tentunya. Pintu itu TIDAK benar-benar terbuka, melainkan BISA dibuka. Artinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu kebahagiaan itu terkunci, dan dia membutuhkan sebuah kunci untuk membukanya. Mau tidak mau, saya sedikit merasa tergelitik untuk mengingat analogi lock &amp;amp; key yang sering saya dengar mengenai kompleks enzim &amp;amp; substrat. Ketika substrat itu menempel dengan kombinasi yang sempurna dengan enzim pasangannya, maka enzim itu akan bekerja sesuai dengan peruntukannya. Jika tidak? Enzim akan tetap menjadi enzim, dan substrat hanya sekedar ligand tak bertuan. Tak ada zat yang terurai, dan tak ada yang terbentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi kutipan - yang disampaikan oleh Hellen Keller- berhubungan dengan hal ini:”Jika satu pintu tertutup, maka pintu lain akan terbuka.Seringkali kita terlalu terpaku pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu yang terbuka.”Kita tidak akan pernah tahu mana pintu yang sesuai dengan kunci yang kita miliki sebelum kita benar-benar mencobanya untuk semua pintu. Namun, terkadang kita terlalu lama mencobanya di pintu pertama atau kedua - di saat baterai energi kita masih terisi penuh. Kita terus memaksa, dan akhirnya malah menyakiti diri kita sendiri.Ada lagi masa dimana kepercayaan tak lagi ada dalam diri kita. Kita terlalu ragu untuk mencoba. Terlalu takut untuk kembali gagal. Dan, pintu itu tak akan pernah terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar dan Semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kunci kesuksesan yang tidak boleh terkikis untuk berhasil membuka pintu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apakah kita cukup kuat untuk mempertahankannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah pintumu terbuka?&lt;br /&gt;Atau bahkan kau belum berhasil menemukan yang mana pintumu? Selamat mencari! ^-^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... diunduh dari &lt;a href="http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-413416904745797058?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/413416904745797058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=413416904745797058' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/413416904745797058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/413416904745797058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/opened-door.html' title='The Opened Door'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-8438369840920681369</id><published>2008-07-27T08:44:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T08:46:14.199-07:00</updated><title type='text'>Tahu</title><content type='html'>Tahu. T-A-H-U. Tahukah anda kata "tahu" dalam tulisan ini merujuk pada makna "tahu" yang mana? ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan iseng kali ini, saya akan sedikit membahas tentang "tahu" yang merupakan makanan berbentuk kubus yang dapat diolah dengan berbagai cara: goreng, rebus, bacem, digerus sampai hancur, digejrot, dsb. Ya, "tahu" yang satu ini adalah salah anggota jajanan gorengan yang amat lumrah ditemui di berbagai tempat penjualan makanan, mulai dari abang-abang di deretan kaki lima hingga di restoran yang terbilang elit. Boleh dibilang, tahu ini adalah primadona rakyat, mulai dari kaum pecinta protein-nabati (baca: harga daging terlalu mahal untuk mereka) sampai pecinta kuliner berkantong tebal yang menyantap makanan olahan bercitarasa "tinggi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai makanan selalu mengundang selera makan saya. Tidak terkecuali pada topik mengenai "derivat" kacang kedelai yang satu ini. Siapa sangka, keluarga kacang kedelai bisa menghasilkan berbagai variasi menu. Sebut saja tahu, tempe, dan oncom, trio kedelai yang popularitasnya di Indonesia mungkin menggeser posisi semua trio-trio ngetop lainnya. Saat harga daging semakin mahal dan marak isu penjualan daging basi atau kerbau, saat harga telur menggelinding naik dan alternatif penjualan telur-retak-atau-pecah mulai dilirik kaum ibu... si "tahu" ini tetap setia ditemui di warung-warung makan dengan harga bersahabat. Walau isu formalin dan kenaikan harga sempat menerpa, nyatanya ia tetap tak bergeming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tayangan di televisi membuat saya terenyuh. Digambarkannya kehidupan seorang ibu usia lanjut yang telah lama bergelut menjadi pembuat tahu dan oncom. Setiap hari, ia berusaha keras untuk mengolah adonan kedelai tanpa mesin (yah, nyatanya di era serba canggih seperti saat ini pun masih banyak orang-orang yang menggunakan tenaga manual karena berbagai keterbatasan). Dengan tubuh sekurus dan setua itu, salut ia tetap menjalankan rutinitas hariannya yang begitu melelahkan, dan selalu bangun pagi-pagi buta. Dengan sabar, setiap harinya ia membawa hasil olahannya - tahu dan oncom untuk dijajakan di pasar tradisional terbuka, dengan harga 200 rupiah per-potong (saya tidak terlalu ingat apa ini harga untuk tahu atau oncom, yang jelas keduanya tidak jauh berbeda). Berarti, harus  berapa banyak yang terjual untuk menutupi biaya hidup sehari-hari?  Tentunya ada hari-hari dimana dagangannya tidak habis terjual, dan dia harus menahan rasa lapar lebih lama karena tidak punya cukup uang untuk membeli makanan (baca: ingat, makanan pokok penduduk Indonesia = nasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika salah seorang teman saya sering mengungkapkan penghargaan kepada emping secara berlebihan karena proses pembuatannya yang menjadikan setiap bagiannya tidak terlepas dari tangan-tangan penumbuknya (dan dulu sering jadi bahan tertawaan), kini saya jadi sedikit lebih bisa memaklumi. Tahu, emping, dan makanan olahan lainnya memang makanan yang ringan di mulut. Tapi jelas, proses pengolahannya bisa jadi tidak seringan kelihatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mulailah dengan menghargai makanan yang ada di depanmu! ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... diunduh dari &lt;a href="http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-8438369840920681369?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/8438369840920681369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=8438369840920681369' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/8438369840920681369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/8438369840920681369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/tahu.html' title='Tahu'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-2872501874593728754</id><published>2008-07-27T08:41:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T08:44:02.786-07:00</updated><title type='text'>Sebuah Kisah</title><content type='html'>Sebuah fiksi di kala kepenatan melanda.... just enjoy it...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;PART 1 - Gadis Kecil Bermata Bulat.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini gadis kecil itu datang lagi. Masih dengan baju biru langit favoritnya, dengan sunggingan senyum malu-malu. Matanya yang bulat memancarkan rasa ingin tahu yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mencari siapa?"tanyaku, dengan usaha membuat suaraku lebih ramah dari biasanya. Bukan sekedar basa-basi, tapi murni karena penasaran. Dua hari sudah makhluk mungil berambut ikal ini tampak di depan pagar rumahku, membuatku heran dengan tindakannya yang tak bergeming cukup lama. Seingatku, di sekitar rumah tidak ada tetangga yang memiliki anak seusianya. Dia tampak tak lebih tua dari 6 tahun, dan garis-garis keluguan bocah cilik masih tergurat jelas di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum. Untuk kesekian kalinya. Tanpa sebuah jawaban. Bahkan sekedar gumaman pun tak kunjung keluar dari bibir mungilnya. Sekilas aku merasa melihat kilat keceriaan di bola mata beningnya. Mungkin hanya prasangka, karena sesungguhnya aku tak bisa menatap dengan jelas dari balik pagar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kuputuskan untuk membuka pagar, ia tampak terkejut dan segera mengambil langkah. Berlari pergi, dan dengan cepat menghilang di persimpangan jalan. Entah mengapa, aku ingin menahannya. Rasa sesal yang membingungkan menjalar di benakku. Menatap wajah manis itu menjadi sebuah kerinduan yang tak terbayangkan. Harusnya aku tidak bertanya padanya. Tidak lagi. Mungkin dengan membiarkannya berdiam diri akan membuatnya bertahan lebih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, rasanya aku jadi terlalu sentimentil. Kukira hidup sendiri untuk waktu yang telah cukup lama membuatku menjadi lebih kuat dan tak butuh orang lain. Nyatanya, seringkali rasa sepi melandaku. Ada secercah rasa bahagia melihat ada seseorang di dekatku, bahkan jika ia adalah seorang anak kecil tak dikenal dan tak jelas asal-usulnya. Tapi benarkah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa gadis kecil ini istimewa. Menenangkan sekaligus menyayat hati. Mengingatkanku pada kenangan masa lalu yang begitu jauh dari kenyataan kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... diunduh dari &lt;a href="http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-2872501874593728754?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/2872501874593728754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=2872501874593728754' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/2872501874593728754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/2872501874593728754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/sebuah-kisah.html' title='Sebuah Kisah'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-2909346537950085326</id><published>2008-07-27T08:39:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T08:41:03.611-07:00</updated><title type='text'>Semangat!!!</title><content type='html'>Akhirnya... nilai ujian sumatif I modul biomol keluar juga. Lega memang, tapi tidak memuaskan. Yah, lulus dengan pas-pasan tentunya beda dengan lulus dengan nilai gemilang. Tapi tak jadi masalah, jika untuk yang berikutnya kita bisa "fight for the best"!!!&lt;br /&gt;Berarti, selama ini saya masih kurang kurang belajar. Masih terlalu banyak santai daripada serius. Semoga ujian berikutnya bisa lebih sukses!!! (amien...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi di luar hal2 yang menyangkut akademis, ada banyak hal yang sangat menyenangkan terjadi. Yah, mungkin ini yang namanya keseimbangan dalam hidup, ya? Ada kalanya sedih menerpa, dan berikutnya terhapus dengan tawa bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keep ur spirit!!!&lt;br /&gt;Semangka!!! (semangat kawan...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nb: jadi teringat jargon baru Pengmas 2008: "hati peduli, aksi berarti"... semoga benar-benar bisa memberikan sesuatu yang berarti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... diunduh dari &lt;a href="http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-2909346537950085326?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/2909346537950085326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=2909346537950085326' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/2909346537950085326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/2909346537950085326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/semangat.html' title='Semangat!!!'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-5572557256703403556</id><published>2008-07-27T08:38:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T08:39:33.117-07:00</updated><title type='text'>Hidup</title><content type='html'>Entah kenapa, beberapa waktu belakangan ini saya terus mendengar kabar duka cita mengenai orang-orang terkasih yang meninggalkan dunia fana ini untuk selamanya. Jujur, tidak satupun dari mereka pernah saya kenal secara langsung. Bahkan, beberapa diantaranya baru saya sadari keberadaannya setelah berita tentang kepergiannya datang dengan tiba-tiba. Apakah dulu saya tidak peka dengan lingkungan saya, atau memang kematian datang lebih sering pada orang-orang di lingkungan sekitar saya? Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru sadar, cepat atau lambat, kematian akan menjemput semua orang di dunia ini. Dan peluang untuk menyaksikannya dengan mata kepala sendiri secara langsung semakin besar seiring dengan berjalannya waktu. Mengingat profesi impian yang membuat saya harus bergelut dengan buku-buku tebal dan penuh dengan kata-kata ajaib ini akan berkaitan erat dengan hal itu. Saya jadi teringat cerita dari salah seorang senior di kampus tentang pengalamannya jaga di rumah sakit, dan untuk pertama kalinya menyaksikan secara langsung pasien yang dirawatnya tak lagi bernyawa. Ada rasa pedih di hatinya karena tidak dapat melakukan sesuatu untuk menyelamatkan pasien itu. Tapi, masih tersisa rasa syukur, karena ia telah berusaha membantu di waktu-waktu terakhir kehidupan si pasien, dengan terus berada di sampingnya, menemani dengan lantunan doa dan ayat-ayat suci. Ia melakukan hal itu, justru ketika tidak ada satupun keluarga yang menemani pasien menjelang ajalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula pengalaman miris ketika pasien yang ditangani oleh seorang senior adalah orang terkasih dari salah satu temannya. Bayangkan bagaimana perasaannya ketika ia harus menghadapi kenyataan bahwa pasien -yang notabene merupakan keluarga tercinta temannya- ternyata meregang nyawa di depan kedua matanya. Bahkan usaha terbaik yang telah dilakukannya pun tak sanggup melawan kematian yang menjemput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, saya selalu merasa profesi impian saya itu hebat. Membuat orang yang sakit jadi sembuh, memberikan keceriaan bagi banyak orang. Kenyataannya, bagaimanapun, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, dan semuanya kembali lagi kepada putusan Tuhan Yang Maha Esa. Akan ada satu titik dimana kita merasa tak berdaya, dan hanya bisa berserah kepada-Nya. Bahkan, ketika sosok yang kita perjuangkan adalah orang terkasih bagi diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, saya akan terus belajar. Minimal, kita harus mengerahkan yang terbaik yang kita miliki, agar penyesalan tidak akan datang berkelanjutan.&lt;br /&gt;Semoga niat baik senantiasa berujung pada kebaikan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... diunduh dari &lt;a href="http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-5572557256703403556?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/5572557256703403556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=5572557256703403556' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/5572557256703403556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/5572557256703403556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/hidup.html' title='Hidup'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-7049009230777652780</id><published>2008-07-27T08:36:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T08:37:58.431-07:00</updated><title type='text'>Book of Life</title><content type='html'>Hidup ibarat sebuah buku.&lt;br /&gt;Setiap halaman kosongnya menanti untuk diisi.&lt;br /&gt;Pena ibarat pikiran liar yang tak berhenti berpacu.&lt;br /&gt;Ia memberi tulisan atau sekedar goresan tak berarti.&lt;br /&gt;Katakanlah setiap carik merupakan wadah untuk menyimpan memori.&lt;br /&gt;Ruang-ruang yang masih putih tak bernoda menunggu untuk disapu tinta.&lt;br /&gt;Setiap percik emosi dan perasaan membawa warnanya sendiri.&lt;br /&gt;Merah membara menyertai amarah.&lt;br /&gt;Abu-abu membelenggu minggu kelabu.&lt;br /&gt;Demikian adanya.&lt;br /&gt;Setiap darinya membawa konsekuensi.&lt;br /&gt;Membawa menuju perjalanan yang berbeda.&lt;br /&gt;Akhir yang bersimpangan.&lt;br /&gt;Walau bagaimanapun&lt;br /&gt;Putih yang ternoda, tak kan pernah kembali suci.&lt;br /&gt;Mengapa?&lt;br /&gt;Karena sebuah penghapus hanya dapat mengikis&lt;br /&gt;Bukan untuk mengembalikan kesempurnaan masa lalu.&lt;br /&gt;Pun sebuah kertas yang terkoyak.&lt;br /&gt;Perekat dapat menyambungnya kembali.&lt;br /&gt;Namun tak akan membuatnya menjadi utuh terpadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=/=/=Jakarta, 4 Maret 2008=/=/=&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hati-hati dalam mengisi buku kehidupan, ya...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... diunduh dari &lt;a href="http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-7049009230777652780?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/7049009230777652780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=7049009230777652780' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/7049009230777652780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/7049009230777652780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/book-of-life.html' title='Book of Life'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-3973661716155492572</id><published>2008-07-27T08:34:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T08:36:25.162-07:00</updated><title type='text'>Syukur</title><content type='html'>Kata ini bukan sekedar judul lagu, melainkan sebuah ungkapan perasaan hati yang tengah meluap diliputi kebahagiaan. Setelah sekian minggu berkutat dengan modul Sel &amp;amp; Genetika, akhirnya saya bisa lega karena berhasil menyelesaikannya tanpa perlu ujian perbaikan. (baca: LULUS!!!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi.. apakah rasa syukur hanya muncul ketika manusia sukses meraih apa yang diharapkannya?&lt;br /&gt;hmm...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis ya, kalau dipikir2.&lt;br /&gt;Berapa kali kita mengungkapkan rasa syukur kita pada Sang Khalik?&lt;br /&gt;Atas nikmat penglihatan&lt;br /&gt;Atas nikmat pendengaran&lt;br /&gt;Atas nikmat untuk merasakan semua hal yang ada di sekitar kita&lt;br /&gt;Mudah2an, kita TIDAK menjadi orang-orang yang ingat dan berusaha dekat dengan-Nya HANYA dalam kesulitan, atau dalam situasi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... diunduh dari &lt;a href="http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-3973661716155492572?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/3973661716155492572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=3973661716155492572' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/3973661716155492572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/3973661716155492572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/kata-ini-bukan-sekedar-judul-lagu.html' title='Syukur'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-7521102657506519275</id><published>2008-07-27T08:33:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T08:34:39.475-07:00</updated><title type='text'>Waktu</title><content type='html'>"Andaikan waktu adalah suatu lingkaran, yang mengitari dirinya sendiri. Demikianlah, dunia mengulang dirinya sendiri, setepat-tepatnya, dan selama-lamanya..." (14 April 1905)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di dunia ini ada dua jenis waktu. Waktu mekanis dan waktu tubuh. Waktu yang pertama kaku, laksana pendulum besi raksasa yang berayun maju-mundur. Waktu yang kedua bergeliang-geliut seperti ikan cucut di teluk. Waktu yang pertama tak dapat ditolak, telah ditetapkan sebelumnya. Waktu yang kedua mengambil keputusan sekehendak hati..." (24 April 1905)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bayangkan dunia tanpa waktu. Hanya bayang-bayang..." (15 Mei 1905)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Andaikan waktu adalah soal kualitas dan bukan kuantitas, seperti cahaya malam yang menaungi pepohonan, saat bulan naik dan menyisiri garis-garis pohon. Waktu hadir, tetapi tak bisa diukur..." (10 Juni 1905)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia ini, waktu adalah dimensi yang terlihat. Seperti halnya orang bisa menatap rumah-rumah, pohon-pohon, dan puncak gunung di kejauhan sebagai pertanda adanya dimensi ruang. Hal serupa terjadi ketika orang menatap ke arah yang berlawanan dan tampaklah kelahiran-kelahiran, pernikahan-pernikahan, kematian-kematian sebagai pertanda adanya dimensi wakt, merentang suram di masa depan yang jauh. Dan, seperti halnya orang bisa berpindah tempat, orang bisa juga memilih gerak pada poros waktu. Beberapa orang merasa takut meninggalkan saat-saat yang membahagiakan. Mereka memilih berlambat-lambat, berjingkat melintasi waktu, mencoba mengakrabi kejadian demi kejadian. Yang lain berpacu menuju masa depan tanpa persiapan, memasuki perubahan yang cepat dari peristiwa-peristiwa yang melintas..." (15 Juni 1905)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di dunia ini, waktu adalah gejala lokal. Dua buah jam berdetak bersama dengan kecepatan yang hampir sama. Tetapi, jam-jam yang dipisahkan oleh jarak berdetak dengan kecepatan yang berbeda, semakin jauh semakin berbeda. Apa yang dipandang benar untuk jam, dipandang benar pula untuk detak jantung, tarikan dan hembusan napas, gerak angin di atas alang-alang. Di dunia ini, waktu mengalir dengan kecepatan yang berbeda-beda di masing-masing tempat..." (20 Juni 1905)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...=dikutip dari Mimpi-Mimpi Einstein, sebuah buku yang dibeli secara tidak sengaja di sebuah pameran, sekitar 4 tahun silam=...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Setidaknya.. saya menganggap waktu sebagai sesuatu yang berharga. Kita dapat melakukan banyak hal, selagi masih ada waktu. Tapi... berapa banyak-kah waktu yang masih tersisa untuk kita?&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nb: deadline tugas konseling genetik dikumpulin besok, dan saya belum menyelesaikan pedigree keluarga..!! hahaha... dasar manusia... berpacu bila deadline ada di depan mata...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... diunduh dari &lt;a href="http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-7521102657506519275?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/7521102657506519275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=7521102657506519275' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/7521102657506519275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/7521102657506519275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/andaikan-waktu-adalah-suatu-lingkaran.html' title='Waktu'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-6224307830794319111</id><published>2008-07-27T08:16:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T08:31:54.312-07:00</updated><title type='text'>The Beginning...</title><content type='html'>Akhirnya -setelah berkali-kali melompat sana-sini membaca blog banyak orang dan berpikir dalam hati apa sebenarnya manfaat yang bisa didapat dari sebuah blog- saya memutuskan untuk membuat blog sendiri. Justru ketika tugas2 kuliah sedang menumpuk, ujian sudah makin merapat, dan berbagai kesibukan mulai berdatangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, namanya juga manusia. Saat jenuh, ia akan mencari pelarian. Anggap saja blog ini menjadi salah satu alternatif untuk mengungkapkan gejolak emosi yang kini dirasakan. Daripada meledak karena terlalu lama dipendam, lebih baik berkarya dalam tulisan. Siapa tahu nantinya bisa bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat semacam pepatah: "Jika kamu tidak bisa menjadikan lidah sebagai senjatamu, maka jadikanlah pena sebagai pedangmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sudah bukan masanya lagi menulis di secarik kertas. Atau sibuk menulisi diary secara sembunyi-sembunyi. Sekarang.. internet semakin mudah diakses dan lebih praktis. Tapi.. apakah ini benar suatu kemajuan, atau justru kemunduran? Entahlah... Dipikirkan justru jadi memusingkan. Yang jelas, saya siap menjadi bagian dari barisan yang akan bersorak dengan semangat: "Selamat datang teknologi!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...diunduh dari &lt;a href="http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/"&gt;http://airaxa.blogs.friendster.com/my_blog/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-6224307830794319111?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/6224307830794319111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=6224307830794319111' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/6224307830794319111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/6224307830794319111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/beginning.html' title='The Beginning...'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5870204305804200731.post-7564914796652008867</id><published>2008-07-27T07:44:00.000-07:00</published><updated>2008-07-27T07:57:35.413-07:00</updated><title type='text'>Sebuah Awal</title><content type='html'>Tanpa sadar, keisengan di kala senggang membawa "penjelajahan maya" saya malam ini memasuki gerbang pendaftaran sebuah blog. Tidak perlu berlama-lama, tiba-tiba saja saya mendapati sebuah blog telah siap untuk diutak-utik di hadapan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kemana arah blog ini akan dibawa. Setidaknya apa yang akan saya tulisan di postingan-postingan berikutnya mungkin hanya sekedar pelepas kepenatan atau bahkan sebagai pengisi waktu luang yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Beberapa mungkin merupakan postingan saya yang "pindah rumah" dari blog sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, selamat menikmati bagi yang berminat untuk membaca, dan selamat jalan bagi yang hanya mampir!!^-^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5870204305804200731-7564914796652008867?l=airaxasblog.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airaxasblog.blogspot.com/feeds/7564914796652008867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5870204305804200731&amp;postID=7564914796652008867' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/7564914796652008867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5870204305804200731/posts/default/7564914796652008867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airaxasblog.blogspot.com/2008/07/sebuah-awal.html' title='Sebuah Awal'/><author><name>Airaxa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10400091895285357266</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_fi2gvPoVuqY/SIyQR4Vhv_I/AAAAAAAAAAM/87UM6y5NVmo/S220/Copy+of+DSC00805.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
